Peneliti ICAIOS Belajar Pendidikan Bencana di Empat Negara

      

IbnuMundzirPeneliti ICAIOS, Ibnu Mundzir, terpilih sebagai salah satu fellow program Hope and Dreams (HANDs!) yang diminati oleh 657 pelamar dari Indonesia.  HANDS! adalah program pertukaran pemuda/i yang diselenggarakan setiap tahun oleh The Japan Foundation Asia Center untuk mengembangkan rasa kebersamaan dan persahabatan antar warga di Asia. HANDs! 2015 diikuti oleh 25 mahasiswa/i dan profesional muda dari delapan negara di Asia (Indonesia, Jepang, Filipina, Thailand, Malaysia, India, Myanmar, dan Nepal).

10634059 782584775097936 396429898951541290 o

Program ini berlangsung selama dua tahun. Pada 5 -15 Oktober, para peserta berkunjung ke Banda Aceh serta Tacloban dan Manila, Filipina untuk belajar tentang pendidikan bencana serta pemulihan pasca tsunami di Aceh dan topan Haiyan di Tacloban. Selain melihat langsung daerah pasca bencana, para peserta juga belajar dari berbagai nara sumber seperti Museum Tsunami Aceh, Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala, dan Komunitas Tikar Pandan di Banda Aceh serta Ashoka Foundation, HABI Education Lab, Curiosity Research Design, Disaster Education through Experiential Learning (DEEL), dan National Institute of Geological Sciences, University of the Philippines di Filipina. Pada 2016, para peserta akan berkunjung ke Chiang Rai di Thailand dan Sendai di Jepang. Setelah itu, para peserta akan berkolaborasi untuk merancang dan melaksanakan program pendidikan bencana di komunitas mereka masing-masing.

Salah satu kelebihan program ini adalah adanya peserta dari beragam negara dan latar belakang profesi yang memberikan keragaman perspektif dalam merancang program pendidikan bencana. Sebagai contoh, lima peserta dari Indonesia memiliki latar belakang praktisi dan peneliti pengurangan risiko bencana, aktivis di sektor pendidikan, seniman, desainer produk, dan praktisi periklanan. Para peserta dari Indonesia sepakat untuk merancang dan mengimplementasikan modul pendidikan bencana untuk pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanan (TK). PAUD dan TK dipilih karena jenjang ini relatif belum banyak mendapatkan intervensi di bidang pendidikan bencana dibandingkan SD, SMP, dan SMA sedangkan anak-anak usia dini memiliki kerentanan tersendiri saat bencana. Pendidikan kebencanaan di tingkat PAUD dan TK akan dirancang dan dilaksanakan dalam berbagai permainan dan kegiatan yang melibatkan anak, guru, dan wali murid.

Read more: Peneliti ICAIOS Belajar Pendidikan Bencana di Empat Negara

PDS: Pluralisme Hukum di Indonesia: Praktek Tiga Hukum Melawan Zina Pada Masyarakat Gayo Saat Ini

Public Discussion Series:

12080112 831385853640967 3006540960574099290 oPLURALISME HUKUM DI INDONESIA:
Praktek Tiga Hukum Melawan Zina Pada Masyarakat Gayo Saat Ini


Pembicara: Arfiansyah (Ph.D Candidate at Leiden University)
JUM’AT, 16 OKTOBER 2015 | 16.30 – 18.00 WIB | RUANG SEMINAR ICAIOS 

Abstract:
Pada perkembangan studi Islam saat ini, khususnya pada studi Pluralism Hukum, sarjana-sarjana barat mulai mengalihkan perhatian mereka untuk memahami masyarakat muslim dengan memahami praktek-praktek hukum mereka. Masyarakat Muslim tidak hanya terikat dan tunduk pada Hukum Negara, namun mereka juga terikat dan tunduk pada Hukum Tuhan (Syariat) dan Adat. Keberadaan ketiga hukum ini disebut dengan Segitiga Hukum dalam Masyarakat Muslim (Islamic Triangle), yang pertama sekali diperkenalkan pada tahun 1990an oleh seorang antropolog Belanda, Leon Buskens. 

Di Indonesia, khususnya Aceh, umat Islam telah lama bernaung di bawah lebih dari 1 hukum saja. Namun belum banyak studi mengenai hubungan ketiga hukum tersebut khususnya dengan studi tentang hubungan hukum Negara, Hukum Islam, dan Hukum Adat. Dengan mengamati Pengadilan Tinggi, Mahkamah Syariat dan Peradilan Adat di Wilayah Tengah, terutama Aceh Tengah dengan berfokus pada Zina, studi ini mencoba untuk memaparkan bagaimana ketiga hukum tersebut beroperasi dan berhubungan di tengah-tengah masyarakat dan hukum mana yang lebih diutamakan oleh masyarakat. Sebagai upaya untuk memahami masyarakat Gayo dan hukum adat disana. Studi ini juga akan membahas tentang sejarah masyrakat Gayo, perubahan dan keberlajutan pada hukum adat mereka

Read more: PDS: Pluralisme Hukum di Indonesia: Praktek Tiga Hukum Melawan Zina Pada Masyarakat Gayo Saat Ini

Report – Public Discussion by Kate Manner

[Reported by: Ariane Boulanger | 4 September 2015]

Public Discussion by Kate Manner on Female Religious Education Teachers in Formal and non-Formal Educational Settings 
How does being a religious education teacher affect the agency of women in Aceh ?
 
11062557 813600088752877 372473572871706878 oUnit of analysis
The unit of analysis were:
  1. Dayah Darul Ishan: 3 female religious education teachers, 2 male one and the 2 principales
  2. Pesantren Al-Fayah Abu Lam-U : 7 female religious education teacher and one principal
  3. 5 Pusat Study Wanita (UIN) activist
  4. 8 other female religious education teachers
 
Theoretical background
Kate based her research on three main theories:
  1. The Structural Relational Approach. It describes structure and agents (in that case teachers and schools) and how they interact, the result of this interactions, and what they produced. She focused on the interaction of women religious education teachers, which affect the schools, which affect them in return. In her interviews she looked at how they can change the structure. (see Hay 2002 and Jess 2005)
  2. Teacher agency theory by Vongalis Macrow. This theory adds to the previous one three key words for teachers: autonomy (or freedom to act), obligation (because teaching is an ethical activity that comes with strong responsibilities) and authority. She looked for  sign of those three in the interviews. Plus, when those women leave the school, they leave their situation of relative power to come back to society.
  3. Muslim women’s agency: article by Mahmood about how the understanding of agency of women is strongly different in the “west” and in islam. ‘We have to think of agency NOT in terms of resistance but as the capacity for action that historically specific relations of subordination enable and create’. Notion of docility that is pejorative for the “west” but is seen as a quality in Islam –example of a pianist that needs to practice a lot sometimes painfully to get to the best level: it is more about malleability than passivity. Understanding this was a must do in her research because this is so different from her background.

Read more: Report – Public Discussion by Kate Manner

Notulensi oleh Ariane Boulanger

Sacred Aid : Faith and Humanitarianism in Disaster Management in Indonesia

Speaker: Muhammad Riza Nurdin, PhD candidate in Australia

pdsbgriza1

M. Riza Nurdin is doing research on social capital and (“sacred”) aid: civil society organizations (CSOs) in Indonesian Disaster Recovery. This presentation will focus more specifically on the third chapter of his thesis: civil society and sanctification of aid. He bases himself on the assumption the faith-based and secular CSOs “operate within the same legal and political framework of secular civil society” but the former differ because of their religious motives, moral duty and divine incentive (Berger 2003, pp. 19-20). Both CSOs and FBOs compete each other in their service and fund raising (Barnett and Stein 2012). The sanctification of aid is the “creation of the sacred, establishment and protection of a space that is viewed as pure and separate from the profane (Barnett and Stein 2012). He is wondering in this chapter if competition between CSOs and FBOs also happens in Indonesia.

The Humanitarian Forum Indonesia, founded in 2008, make a census of Indonesia’s main FBO: Dompet Dhuafa, Mdmc, Karina, ACE/PPKM, World Vision, YEU, YTB, PKPU, Church World Service, Habitat for Humanity, Rebana Indonesia, Oikumene, Rumah Zakat and also ACT, Al-Azhar, Islamic Relief, LPBINU, MPBI & Muslim Aid.focus more specifically on the third chapter of his thesis: civil society and sanctification of aid. He bases himself on the assumption the faith-based and secular CSOs “operate within the same legal and political framework of secular civil society” but the former differ because of their religious motives, moral duty and divine incentive (Berger 2003, pp. 19-20). Both CSOs and FBOs compete each other in their service and fund raising (Barnett and Stein 2012). The sanctification of aid is the “creation of the sacred, establishment and protection of a space that is viewed as pure and separate from the profane (Barnett and Stein 2012). He is wondering in this chapter if competition between CSOs and FBOs also happens in Indonesia.

Read more: Notulensi: Sacred Aid : Faith and Humanitarism in Disaster Management in Indonesia

FGD: Enhancing the Museum Education Experience

 

11794270 793515837427969 8761480785207200146 o

Dalam rangka ikut memperingati “100 Tahun Museum Negeri Aceh”, 
ICAIOS akan memfasilitasi Workshop FGD bertema 


Enhancing the Museum Education Experience 
(Memperkaya Pengalaman Edukasi Lewat Museum) 


Fasilitator:
Dr. Jonathan Zilberg
Prof. Dr. Eka Srimulyani, MA 

Waktu dan Tempat:
Hari/ Tanggal : Selasa, 28 Juli 2015
Waktu : 09:00 – 12:00 WIB
Tempat : Ruang Seminar, Gd.Museum Tsunami Lt.2

* Participation is by invitation only (Hanya untuk undangan)

Read more: FGD: Enhancing the Museum Education Experience

 banner 001

 

Call for Article
ICAIOS welcomes scholars and researchers to publish scientific or popular articles. See the article guideline HERE

Want to get more involved with ICAIOS activities?
If yes, complete the form here

Also check our latest Public Discussion and Guest Lecture Series videos
Subscribe us on Youtube  

 

 

 

 

Popular Article

"Cadarisme" dalam Islam Wasatiyyah
by : Nisa Khairuni
nisaa


Vitamin C untuk Penggemar MedSos
by : Rizanna Rosemary
buIjan edit


Habaib in Southeast Asia: A Review
by : Nia Deliana
nia


 

 

 

 

 

iconKM2

Links

logoGlobedlogo eossmeruccis logo newIDRPerakSmall logo1