Information Brokers Versus Perpustakaan

Tahukah anda apa itu information brokers ? dan apa hubungannya dengan Perpustakaan?

Information brokers adalah para penjaja informasi yang memperdagangkan informasi secara luas dan bebas. Konsep perdagangan informasi ini, pertama kali diperkenalkan di Paris oleh S’il Vons Plait pada tahun 1940-an, sebuah perusahaan perdagangan yang memberikan jasa layanan menjawab cepat melalui telepon atas berbagai macam pertanyaan dari para pelanggan secara bulanan (Kalba, 1977), meskipun pelayanan serupa telah dilakukan di Budapes Telepon Newpaper, Hungaria pada tahun 1923. Bahkan, ide formal jenis pelayanan serupa di Amerika Serikat sudah ada sejak beberapa dekade sebelumnya. Sekarang di kota-kota besar hampir seluruh dunia memiliki jenis pelayanan informasi dengan tujuan komersial. Contohnya, Information Resources, Information Unlimited, PDBI dan sebagainya
     


     Para penjaja atau pedagang informasi ini mengerjakan cukup banyak hal, termasuk menyediakan buku-buku referensi guna memberikan jawaban yang cepat atas pertanyaan yang memerlukan jawaban relative cepat dan langsung. Mereka pun menghimpun data atau data-data statistik, daftar pos dan abstrak. Mereka juga mengadakan berbagai kegiatan penelitian terhadap industri-industri tertentu, yang nantinya memungkinkan menghasilkan keuntungan material. Mereka memberikan berbagai layanan indeks dan penelusuran online, bibliografi dan konsultasi. Selain itu, mereka tidak lupa melayani penelusuran dokumen-dokumen, membantu para pelanggan dalam mengorganisasikan arsip informasi yang dimilikinya. Dalam beberapa hal mereka memberikan jasa layanan penelitian pasar dan jasa terjemahan.

Tampaknya kegiatan perdagangan informasi seperti itu mirip dengan kegiatan yang ada pada perpustakaan. Namun, tentu saja perdagangan informasi tidak sesederhana itu. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut :

  1. Kebutuhan pengguna harus terpenuhi, yang merupakan satu proses yang sering melibatkan beberapa kontak, bukan untuk mengadakan perjanjian
  2. Perdagangan informasi harus mempunya bakat syarat dan sumbe-sumber guna memenuhi pertanyaan ataupun pemintaan pengguna
  3. Harus mengadakan pekerjaan dengan efektif dalam menjawab pertanyaan tertentu, dan harus mengorganisasikan langganan secara antri jika telah berhasil.

  Perbedaan dengan perpustakaan

Perbedaan proses pada perpustakaan dengan perdagangan informasi adalah hal-hal yang bersifat instructive (mengandung pelajaran) dan bukan pada sifat kemiripannya. Perbedaan utama adalah pada misi lembaganya yang bersifat mencari keuntungan material, sedangkan perpustakaan pada umumnya bersifat sosial. Perdagangan informasi menerima jasa material dari pelanggan secara langsung pada setiap saat jasa diberikan perusahaan. Perbedaan yang lain adalah perdagangan informasi dalam mencari langganannya sering dilakukan secara individual, mencari orang-orang yang besar rasa keingintahuannya, berimajinatif, peneliti yang berhasil, serta bidang-bidang profesi yang menuntut banyak informasi guna menigkatkan kemampuannya. Sedangkan perpustakaan ditujukan untuk segenap anggota masyarakat secara luas tanpa membeda-bedakan status sosial dan kedudukannya. selain itu, biaya pemasaran yang dianggarkan oleh perdagangan informasi relative lebih tinggi dibandingkan dengan yang dilakukan oleh perpustakaan.

Ringkasnya adalah, pedagang informasi atau pasar informasi melakukan apa yang dilakukan oleh perpustakaan. Segala diskripsi dan argumentasi dari perpustakaan diterapkannya, terutama dalam konsep-konsepnya yang sesuai. Mereka hidup dengan memberikan pelayanan kepada pelanggan yang relative makmur (sudah terpenuhi kebutuhan pokoknya) atas dasar layan bayar, artinya ada layanan-ada bayaran.

__________________

Daftar Pustaka :

-  Kalbar, Kas 1977. Libraries in Information Marketplace dalam Eastabrook, Leigh (ed.).1977. Libraries in Post Industrial Society. Phoenix (USA) : The Oxford Press

-  Pawit Yusuf, M.S. 2009. Ilmu Informasi, Komunikasi dan Kepustakaan, Jakarta : Bumi Aksara