Island in Focus: Myanmar Armed Groups Visit Aceh

The Jakarta Post, Banda Aceh | Archipelago | Thu, February 18 2016, 9:11 AM
Representatives of three armed ethnic organizations from Myanmar are visiting Aceh to learn about peace building in the formerly conflict-affected area. The groups, the Karen National Union (KNU), the Democratic Karen Benevolent Army (DKBA) and the Karen National Union Peace Council (KNU PC), were represented by 15 officials who met with Aceh Wali Nanggroe traditional leader Malik Mahmud Al-Haytar on Tuesday in Banda Aceh. The Karen delegation, led by Gen. Isaac Po, were accompanied by staff from the Center for Peace and Conflict Studies and the International Center for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS).
During the meeting, Malik told his guests about the importance of dialogue to solve prolonged armed conflict in Indonesia’s westernmost province. “If you conduct dialogue, you will get support from your people as well as international support,” Malik said as quoted by Antara news agency. Besides meeting with Malik, the groups were set to discuss peace building with Aceh Governor Zaini Abdullah, Banda Aceh Mayor Illiza Sa’aduddin Jamal, former combatants of the Aceh Free Movement, members of Aceh’s local political parties, academics and local NGOs. [Source]
 

PDS Report: Perhatian Pemerintah Aceh Terhadap Kesenian Lokal Perlu Ditingkatkan

ARI: PERHATIAN PEMERINTAH ACEH TERHADAP KESENIAN LOKAL PERLU DITINGKATKAN
Reported by: Anton Widyanto

 

AriPalawiInternational Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) kembali menggelar diskusi publik (Public Discussion Series) yang mengangkat tema Art and Music of Aceh: From Local to Global (Kesenian dan Musik Aceh: Dari Lokal menuju Global) Jumat (19/2/2016). Hadir sebagai pembicara, Ari Palawi, Dosen Sendratasik FKIP Kesenian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Dalam paparannya, pegiat seni musik klasik jebolan Institut Seni Yogyakarta dan University of Hawai’i at Manoa (UHM), USA, ini menjelaskan perlunya perhatian komponen-komponen di kalangan Pemerintah Aceh terhadap pengembangan kesenian Aceh. Beberapa program yang sudah dilakukan untuk memperkenalkan kesenian Aceh kepada dunia internasional sudah dilakukan, mulai dari Muhibbah Seni maupun penyelenggaraan International Conference and Cultural Event of Aceh (ICCE).

“Kesenian Aceh sejauh ini alhamdulillah sudah dikenal oleh pihak internasional bahkan sangat dihargai dan mendapatkan banyak perhatian”, ulas Ari.

Read more: PDS Report: Perhatian Pemerintah Aceh Terhadap Kesenian Lokal Perlu Ditingkatkan

Ini Anjuran Wali Kepada Kelompok Etnik Bersenjata Karen

wali nanggroeACEHTREND.CO, Banda Aceh | 15 Februari 2016

Hari ini, Senin (15/2/2016), siang kelompok bersenjata Karen mengunjungi kantor Wali Nanggroe dan diterima langsung oleh Wali Nanggroe, Malik Mahmud Al Haytar.

Pada kesempatan ini wali nanggroe memaparkan perjuangan Aceh, konflik Aceh serta proses perdamaian Aceh yang telah diinisiasi sejak tahun 1999 yang difasilitasi oleh Henry Dunant Centre, dan sempat mengalami proses maju dan mundur hingga sekarang, yang ditandai dengan perjanjian damai di Helsinki, Finlandia.

Dalam proses menuju damai Aceh, menurut Wali ada banyak tantangan dan hambatan yang dihadapi, hampir sama dengan konflik Myanmar yang saat ini sudah mulai memasuki fase damai, namun masih ditemui beberapa tantangan.

Wali Nanggroe menganjurkan kepada para pihak yang berkonflik, kelompok bersenjata di Myamar untuk mengikuti cara-cara melalui meja perundingan atau dialog.

Read more: Ini Anjuran Wali Kepada Kelompok Etnik Bersenjata Karen

Kelompok Besenjata Myanmar Pelajari Perdamaian Aceh

Serambi Indonesia | Selasa, 16 Februari 2016

kunjungan para delegasi myanmar tersebut d 20160216 092627BANDA ACEH - Tiga kelompok etnik bersenjata api (senpi) dari Myanmar beraudiensi dengan Wali Nanggroe, Tgk Malik Mahmud Alhaythar di Gedung Majelis Adat Aceh (MAA) di Kompleks Keistimewaan Aceh, Senin (15/2). Dalam pertemuan singkat itu, para delegasi berjumlah 17 orang itu bertanya seputar perdamaian Aceh yang telah terwujud sejak 15 Agustus 2005.

Ketiga kelompok bersenjata yang hadir kemarin merupakan kelompok bersenjata yang telah menandatangani perjanjian genjatan senjata nasional (National Ceasefire Agreement) dengan Pemerintah Myanmar. Ketiga kelompok itu adalah, Karen National Union/Karen National Liberation Army (KNU/KNLA), Democratic Karen Benevolent Army (DKBA), dan Karen National Union/Karen National Liberation Army Peace Council (KNU/KNLA PC).

Kunjungan kemarin, para delegasi didampingi staf dari Center for Peace and Conflict Studies dan bekerjasama dengan lembaga riset International Center for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS). Program Assistant ICAIOS, Fahmi Yunus mengatakan, misi kunjungan kelompok Karen tersebut guna mempelajari tentang proses perdamaian yang telah terwujud di Aceh.

Read more: Kelompok Besenjata Myanmar Pelajari Perdamaian Aceh

Kelompok Bersenjata Myanmar Pelajari Perdamaian Aceh

Harian Analisa| Selasa, 16 Februari 2016

Banda Aceh, (Analisa). Tiga kelompok etnik bersenjata (Ethnic Armed Organizations/EAOs) Myanmar berkunjung ke Aceh pada14-20 Februari 2016 guna bertemu dengan beberapa tokoh dan organisasi di Aceh.

Kelompokyang berasal dari etnik Karen ini adalah kelompok bersenjata yang sudah menandatangani perjanjian gencatan senjata nasional (National Ceasefire Agreement/NCA) Myanmar, yang terdiri atas Karen National Union/Karen National Liberation Army (KNU/KNLA), Democratic Karen Benevolent Army (DKBA) dan Karen National Union/Karen National Liberation Army Peace Council (KNU/KNLA PC). 

Misi kunjungan kelompok Karen untuk belajar, memahami proses perdamaian, pencapaian selama ini dan tantangan yang dihadapi bagi perdamaian yang berkelanjutan. Di samping itu, kelompok ini juga belajar pengalaman Aceh tentang tahapan- tahapan dalam transisi dan transformasi dari pejuang kemerdekaan yang kemudian menjabat posisi penting di pemerintahan. 

Pada Senin (15/2), kelompok bersenjata Karen mengunjungi kantor Wali Nanggroe Aceh dan diterima Wali Nanggroe, Malik Mahmud. Pada kesempatan ini Malik memaparkan perjuangan Aceh, konflik Aceh serta proses perdamaian yang telah diinisiasi sejak 1999 dengan difasilitasi Henry Dunant Centre (HDC) dan sempat mengalami proses maju mundur hingga ditandatangani perjanjian damai dengan Pemerintah Indonesia di Helsinki, Finlandia. 

Read more: Kelompok Bersenjata Myanmar Pelajari Perdamaian Aceh

 banner 001

 

Call for Article
ICAIOS welcomes scholars and researchers to publish scientific or popular articles. See the article guideline HERE

Want to get more involved with ICAIOS activities?
If yes, complete the form here

Also check our latest Public Discussion and Guest Lecture Series videos
Subscribe us on Youtube  

 

 

 

 

Popular Article

"Cadarisme" dalam Islam Wasatiyyah
by : Nisa Khairuni
nisaa


Vitamin C untuk Penggemar MedSos
by : Rizanna Rosemary
buIjan edit


Habaib in Southeast Asia: A Review
by : Nia Deliana
nia


 

 

 

 

 

iconKM2

Links

logoGlobedlogo eossmeruccis logo newIDRPerakSmall logo1