Urbanisme Warga | Wet-wet Gampong
Belajar Seni dan Bencana di Gampong Punge Blang Cut | 04 March 2017
Halal bi Halal with ICAIOS Family | ICAIOS Office
28 June 2017
ICAIOS Researchers at Bhinneka Kota
Kota Tua, Jakarta | 08 April - 14 Mei 2017 | by RUJAK Center for Urban Studies
Visiting Diplomat Discussion : Keberagaman Agama
with David Saperstein | 26 October 2016
Meeting with delegation of Japan Foundation
ICAIOS Seminar Room | 28 Ferbruary 2017
ICAIOS Bersama Warga dalam "Festival Minuman Nipah"
Gampong Pande | 06 Agustus 2017 | Urbanisme Warga
ICAIOS Researchers Participated on Pilot Training : Introduction to Geology for Spatial Planning
Organized by Georisk-BGR Germany and PPSDM Geologi, Mineral dan Batu Bara | 13 - 17 March 2017 | Mason Pine Hotel, Padalarang
Audiensi Tim ICAIOS - ARICIS dengan Rektor UIN Ar-Raniry
16 January 2018
Movie Screening and Discussion #2 : Mohabbatein
with Dr. M. Saleh Sjafei, S.H., M.Si | Thursday, 27 July 2017 | ICAIOS Seminar Room
ICAIOS's Meuramin
Every Wednesday | ICAIOS Lawn
Visitation from Asia Pacific Institute of Research
with Dr. Mempei Hasyashi and Mizan Bisri | 23 November 2016
Peneliti ICAIOS dalam workshop bersama CACS dan CSCD Pattani
Pattani, Thailand
Sharing session :Penelitian dan Penulisan Sejarah Kampung-Kampung Di Singapura
with Prof. Hadijah Rahmat | 12 December 2017 | prof. Anthony Reid Seminar Room, ICAIOS
Meeting with Delegation from Oberlin Shansi
ICAIOS Seminar Room | 12 April 2017
PDS #68 : Batasan-batasan Syariat Islam Aceh
With Arfiansyah | 30 Agustus 2018 | prof. Anthony Reid Seminar Room, ICAIOS
Meeting with guest from German Embassy
with Jens Schuering | 25 May 2016
Urbanisme Warga | Wet-wet Gampong
Menyusuri Jejak Turki di Gampong Bitai | 15 Juli 2017
ICAIOS VI
Syiah Kuala University | 8-9 August 2016
Meeting with Delegation from Rotary Peace Center, Bangkok
18 December 2017 | prof. Anthony Reid Seminar Room, ICAIOS
Training pembuatan film pencegahan radikalisme untuk tingkat SMA/Sederajat
14-17 Maret 2018 | Ruang Seminar Anthony Reid | ICAIOS
GLS : Indonesian Islamic Performance in the context of an Indian Ocean Sound-World
with Anne K. Rasmussen | 13 April 2017 | ICAIOS Seminar Room
Rangkang Manyang ICAIOS XIV : Tata Kelola E-Journal dan Publikasi Ilmiah
28 September 2017 | prof. Anthony Reid Seminar Room, ICAIOS
Graphic Design for Academics and Office Needs Workshop
With Pratitou Arafat | 22 December 2016
Meeting with Delegation from Kemenristekdikti
ICAIOS Seminar Room | Rabu, 24 May 2017 | 15.30 WIB
ICAIOS at Open is the New Smart : Making Cities Work for Citizen
with Open Data Labs, RUJAK, Jakarta Smart Cities | Goethe Haus | 07 March 2017

Sosialisasi dan edukasi tentang bencana adalah suatu proses yang harus dilakukan terus menerus, tanpa henti, dengan berbagai cara dan media. International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), bersama dengan puluhan seniman dari berbagai negara mengadakan pameran seni kontemporer sejak 25 Februari hingga 12 Maret 2017 di Museum Tsunami, Banda Aceh. Yang menjadikan acara ini menarik adalah benda yang dipamerkan pada pada perhelatan seni tersebut berupa tas, tepatnya tas siswa sekolah dasar dari Jepang.

Mengusung tema Field Trip Project, eksibisi seni interaktif ini dimulai sejak tahun 2012. Kerja seni ini diinisiasi oleh seniman kelahiran Jepang yang tinggal di Kanada, Daisuke Takeya dan guru seni Chie Kajiwara yang mencoba memanfaatkan tas-tas anak sekolah dasar di Jepang. Pada awalnya tas-tas ini direncanakan untuk disalurkan kepada anak-anak di wilayah yang terkena tsunami Jepang pada tahun 2011. Namun pemerintah daerah setempat memutuskan untuk membeli tas-tas baru yang seragam kepada anak-anak tersebut. Tas-tas yang tidak terpakai itu, lalu secara kreatif diolah secara bersama-sama dan interaktif oleh puluhan seniman dari seluruh dunia. Daisuke berhasil meyakinkan dan mengajak teman-temannya untuk mengkreasikan tas-tas tersebut dalam bentuk gambar, kerajianan tangan, dan berbagai kreasi lainnya yang juga dikemas dalam media yang berbeda.

Pratitou Arafat, dari ICAIOS selaku koordinator pameran seni tersebut mengemukakan,

“Walaupun terjadi dua belas tahun lalu, namun kita tetap perlu mengingat dan siaga akan potensi bencana alam ini karena Aceh adalah wilayah yang sangat rawan akan bencana geologi seperti gempabumi dan tsunami”

Pameran ini diharapkan dapat menjadi media pembelajaran kepada siapa saja, termasuk anak-anak akan pentingnya mempelajari tentang pengurangan risiko bencana.

Filosofi Tas

Kolaborasi pemanfaatan tas sebagai media seni secara kreatif ini ternyata memiliki makna secara filosofis. Menurut Pratitou, anak-anak sekolah di Jepang, tas-tas sekolah terlihat berat dan bikin letih, karena dipenuhi banyak buku dan peralatan sekolah. Namun dalam pameran ini tas-tas tersebut diubah menjadi ringan dan menyenangkan.

“Sama seperti memori tentang bencana. Bagi sebagian besar orang, bencana selalu berat untuk dibincangkan dan dibahas. Kita ingin agar memori itu bisa ‘dikeluarkan’, sehingga orang-orang dapat berbicara dan berdiskusi tentang bencana dengan lebih ringan” pungkasnya.

Sementara itu, salah seorang pengunjung pameran Afiati memaparkan kegiatan seni yang diselenggarakan para seniman berbagai negara ini sangat menarik.

“Tas-tas yang dipajang pada pameran seni ini sangat kreatif dan menarik” paparnya.

Sekitar 63 tas yang dipajang pada pameran ini telah dipamerkan pada 20 kota di Jepang, dan negara-negara lain seperti Fillipina, Singapura, Kanada, dan Indonesia. Untuk Banda Aceh, ICAIOS selain bekerjasama dengan Japan Foundation selaku sponsor seniman dari Jepang, beberapa komunitas seni di Banda Aceh juga ikut terlibat, seperti Kanot Bu yang memamerkan karya seniman Aceh, Idrus bin Harun, dan komunitas Akar Imaji.


Tidak hanya bertempat di Museum Tsunami, pada tanggal 4 Maret 2017, tas-tas yang dipamerkan tersebut akan dibawa ke jalur yang pernah diterpa bencana tsunami. Para seniman dan anggota komunitas akan berjalan sambil memakai tas menuju PLTD Apung yang berjarak sekitar 2 kilometer dari lokasi pameran. Dalam perjalan, mereka akan menanyai orang-orang yang dijumpai untuk ditanyai pendapatnya dan interpretasi mereka tentang tsunami. Nantinya jawaban dan pendapat warga tersebut akan dituliskan dan dipamerkan menjadi instalasi seni.

ICAIOS yang berkantor di Kampus Darussalam adalah lembaga kajian internasional tentang Aceh dan Samudra Hindia yang didirikan oleh Pemerintah Aceh, Universitas Syiah Kuala, UIN Ar-Raniry, Universitas Malikussaleh, Kementrian Ristek Indonesia dan sejumlah ilmuwan dan insitusi akademik internasional pada tahun 2007 sebagai usaha rekonstruksi non-fisik pascakonflik dan tsunami di Aceh. Tidak hanya bergerak dalam bidang penelitian dan pelatihan, organisasi ini juga aktif dalam beraneka kegiatan seni dan komunitas di Aceh.

***

 banner 001

 

Call for Article
ICAIOS welcomes scholars and researchers to publish scientific or popular articles. See the article guideline HERE

Want to get more involved with ICAIOS activities?
If yes, complete the form here

Also check our latest Public Discussion and Guest Lecture Series videos
Subscribe us on Youtube  

 

 

 

 

Popular Article

"Cadarisme" dalam Islam Wasatiyyah
by : Nisa Khairuni
nisaa


Vitamin C untuk Penggemar MedSos
by : Rizanna Rosemary
buIjan edit


Habaib in Southeast Asia: A Review
by : Nia Deliana
nia


 

 

 

 

 

iconKM2

tracerLPSDM

Visitors

024731
Today: 17
Yesterday: 10
This Week: 60
This Month: 328
Indonesia 52.3% Indonesia
United States 26.6% USA
China 2.5% China
France 2.1% France

Total:

106

Countries

Links

logoGlobedlogo eossmeruccis logo newIDRPerakSmall logo1