Audiensi Tim ICAIOS - ARICIS dengan Rektor UIN Ar-Raniry
16 January 2018
Sharing session :Penelitian dan Penulisan Sejarah Kampung-Kampung Di Singapura
with Prof. Hadijah Rahmat | 12 December 2017 | prof. Anthony Reid Seminar Room, ICAIOS
Rangkang Manyang ICAIOS XIV : Tata Kelola E-Journal dan Publikasi Ilmiah
28 September 2017 | prof. Anthony Reid Seminar Room, ICAIOS
Meeting with delegation of Japan Foundation
ICAIOS Seminar Room | 28 Ferbruary 2017
ICAIOS at Open is the New Smart : Making Cities Work for Citizen
with Open Data Labs, RUJAK, Jakarta Smart Cities | Goethe Haus | 07 March 2017
PDS #63 : The Disobedient Uleebalang: Sarekat Islam and Colonial Civil Rule In Aceh, 1918-1923
with With Raisa Kamila | 12 April 2018 | prof. Anthony Reid Seminar Room, ICAIOS
Visitation from Asia Pacific Institute of Research
with Dr. Mempei Hasyashi and Mizan Bisri | 23 November 2016
Halal bi Halal with ICAIOS Family | ICAIOS Office
03 July 2017
ICAIOS Bersama Warga dalam "Festival Minuman Nipah"
Gampong Pande | 06 Agustus 2017 | Urbanisme Warga
ICAIOS VI
Syiah Kuala University | 8-9 August 2016
ICAIOS's Meuramin
Every Wednesday | ICAIOS Lawn
Meeting with Delegation from Oberlin Shansi
ICAIOS Seminar Room | 12 April 2017
Meeting with Delegation from Kemenristekdikti
ICAIOS Seminar Room | Rabu, 24 May 2017 | 15.30 WIB
Meeting with Delegation from Rotary Peace Center, Bangkok
18 December 2017 | prof. Anthony Reid Seminar Room, ICAIOS
Graphic Design for Academics and Office Needs Workshop
With Pratitou Arafat | 22 December 2016
Visiting Diplomat Discussion : Keberagaman Agama
with David Saperstein | 26 October 2016
Peneliti ICAIOS dalam workshop bersama CACS dan CSCD Pattani
Pattani, Thailand
Training pembuatan film pencegahan radikalisme untuk tingkat SMA/Sederajat
14-17 Maret 2018 | Ruang Seminar Anthony Reid | ICAIOS
GLS : Indonesian Islamic Performance in the context of an Indian Ocean Sound-World
with Anne K. Rasmussen | 13 April 2017 | ICAIOS Seminar Room
Urbanisme Warga | Wet-wet Gampong
Menyusuri Jejak Turki di Gampong Bitai | 15 Juli 2017
ICAIOS Researchers at Bhinneka Kota
Kota Tua, Jakarta | 08 April - 14 Mei 2017 | by RUJAK Center for Urban Studies
Meeting with guest from German Embassy
with Jens Schuering | 25 May 2016
Movie Screening and Discussion #2 : Mohabbatein
with Dr. M. Saleh Sjafei, S.H., M.Si | Thursday, 27 July 2017 | ICAIOS Seminar Room
Urbanisme Warga | Wet-wet Gampong
Belajar Seni dan Bencana di Gampong Punge Blang Cut | 04 March 2017
ICAIOS Researchers Participated on Pilot Training : Introduction to Geology for Spatial Planning
Organized by Georisk-BGR Germany and PPSDM Geologi, Mineral dan Batu Bara | 13 - 17 March 2017 | Mason Pine Hotel, Padalarang

Tahukah anda apa itu information brokers ? dan apa hubungannya dengan Perpustakaan?

Information brokers adalah para penjaja informasi yang memperdagangkan informasi secara luas dan bebas. Konsep perdagangan informasi ini, pertama kali diperkenalkan di Paris oleh S’il Vons Plait pada tahun 1940-an, sebuah perusahaan perdagangan yang memberikan jasa layanan menjawab cepat melalui telepon atas berbagai macam pertanyaan dari para pelanggan secara bulanan (Kalba, 1977), meskipun pelayanan serupa telah dilakukan di Budapes Telepon Newpaper, Hungaria pada tahun 1923. Bahkan, ide formal jenis pelayanan serupa di Amerika Serikat sudah ada sejak beberapa dekade sebelumnya. Sekarang di kota-kota besar hampir seluruh dunia memiliki jenis pelayanan informasi dengan tujuan komersial. Contohnya, Information Resources, Information Unlimited, PDBI dan sebagainya
     


     Para penjaja atau pedagang informasi ini mengerjakan cukup banyak hal, termasuk menyediakan buku-buku referensi guna memberikan jawaban yang cepat atas pertanyaan yang memerlukan jawaban relative cepat dan langsung. Mereka pun menghimpun data atau data-data statistik, daftar pos dan abstrak. Mereka juga mengadakan berbagai kegiatan penelitian terhadap industri-industri tertentu, yang nantinya memungkinkan menghasilkan keuntungan material. Mereka memberikan berbagai layanan indeks dan penelusuran online, bibliografi dan konsultasi. Selain itu, mereka tidak lupa melayani penelusuran dokumen-dokumen, membantu para pelanggan dalam mengorganisasikan arsip informasi yang dimilikinya. Dalam beberapa hal mereka memberikan jasa layanan penelitian pasar dan jasa terjemahan.

Tampaknya kegiatan perdagangan informasi seperti itu mirip dengan kegiatan yang ada pada perpustakaan. Namun, tentu saja perdagangan informasi tidak sesederhana itu. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut :

  1. Kebutuhan pengguna harus terpenuhi, yang merupakan satu proses yang sering melibatkan beberapa kontak, bukan untuk mengadakan perjanjian
  2. Perdagangan informasi harus mempunya bakat syarat dan sumbe-sumber guna memenuhi pertanyaan ataupun pemintaan pengguna
  3. Harus mengadakan pekerjaan dengan efektif dalam menjawab pertanyaan tertentu, dan harus mengorganisasikan langganan secara antri jika telah berhasil.

  Perbedaan dengan perpustakaan

Perbedaan proses pada perpustakaan dengan perdagangan informasi adalah hal-hal yang bersifat instructive (mengandung pelajaran) dan bukan pada sifat kemiripannya. Perbedaan utama adalah pada misi lembaganya yang bersifat mencari keuntungan material, sedangkan perpustakaan pada umumnya bersifat sosial. Perdagangan informasi menerima jasa material dari pelanggan secara langsung pada setiap saat jasa diberikan perusahaan. Perbedaan yang lain adalah perdagangan informasi dalam mencari langganannya sering dilakukan secara individual, mencari orang-orang yang besar rasa keingintahuannya, berimajinatif, peneliti yang berhasil, serta bidang-bidang profesi yang menuntut banyak informasi guna menigkatkan kemampuannya. Sedangkan perpustakaan ditujukan untuk segenap anggota masyarakat secara luas tanpa membeda-bedakan status sosial dan kedudukannya. selain itu, biaya pemasaran yang dianggarkan oleh perdagangan informasi relative lebih tinggi dibandingkan dengan yang dilakukan oleh perpustakaan.

Ringkasnya adalah, pedagang informasi atau pasar informasi melakukan apa yang dilakukan oleh perpustakaan. Segala diskripsi dan argumentasi dari perpustakaan diterapkannya, terutama dalam konsep-konsepnya yang sesuai. Mereka hidup dengan memberikan pelayanan kepada pelanggan yang relative makmur (sudah terpenuhi kebutuhan pokoknya) atas dasar layan bayar, artinya ada layanan-ada bayaran.

__________________

Daftar Pustaka :

-  Kalbar, Kas 1977. Libraries in Information Marketplace dalam Eastabrook, Leigh (ed.).1977. Libraries in Post Industrial Society. Phoenix (USA) : The Oxford Press

-  Pawit Yusuf, M.S. 2009. Ilmu Informasi, Komunikasi dan Kepustakaan, Jakarta : Bumi Aksara

 banner 001

 

Call for Article
ICAIOS welcomes scholars and researchers to publish scientific or popular articles. See the article guideline HERE

Want to get more involved with ICAIOS activities?
If yes, complete the form here

Also check our latest Public Discussion and Guest Lecture Series videos
Subscribe us on Youtube  

 

 

 

 

Popular Article

"Cadarisme" dalam Islam Wasatiyyah
by : Nisa Khairuni
nisaa


Vitamin C untuk Penggemar MedSos
by : Rizanna Rosemary
buIjan edit


Habaib in Southeast Asia: A Review
by : Nia Deliana
nia


 

 

 

 

 

iconKM2

tracerLPSDM

Visitors

022123
Today: 16
Yesterday: 14
This Week: 16
This Month: 429
Indonesia 55.3% Indonesia
United States 25.5% USA

Total:

105

Countries

Links

logoGlobedlogo eossmeruccis logo newIDRPerakSmall logo1