PEMBAKARAN BENDERA ATAUKAH PENISTAAN TAUHID?

Oleh : Nabawi
Penulis adalah Mahasiswa Prodi S2 Pendidikan Agama Islam
Pascasarjana 
UIN Ar-Raniry
Email : nabawi.syukri@gmail.com
 

nabawiPada peringatan Hari Santri Nasional yang lalu (22/10/18) salah seorang peserta Uus Sukmana mengibarkan bendera HTI. Aksinya itu menimbulkan kegaduhan dan akhirnya berujung pada pembakaran bendera. Uus Sukmana adalah warga Garut yang tinggal di Bandung.  Dia mengakui bahwa yang dibawanya adalah bendera HTI.

Sejak awal pihak penyelenggara telah menetapkan aturan dalam pelaksanaan Hari Santri Nasional 2018 yakni setiap peserta dilarang membawa atribut apapun selain bendera merah putih. Saat upacara, keseluruhan kegiatan berjalan sesuai harapan bahkan konten yang disampaikan berisi pesan penegakan toleransi beragama, peningkatan ukhuwah islamiyah, rasa nasionalisme santri dan menjaga NKRI juga Pancasila.

Menjelang akhir perayaan, ada laki-laki dikenal bernama Uus Sukmana mengeluarkan bendera berwarna hitam bertuliskan Laailahaillallah Muhammadurrasulullah warna putih di area tersebut, aksi ini disinyalir tidak sesuai dengan aturan. Uus pun dibawa oleh anggota Banser untuk diajak berkomunikasi, kerena awalnya hanya mengamankan, Uus diminta meninggalkan area tersebut dan bendera itu ditinggalkan. Karena bendera ini tidak boleh dibawa dan dikibarkan pada perayaan Hari Santri Nasional dan mengingat HTI adalah organisasi terlarang tiga orang Banser secara spontan membakar bendera itu.

Read more: PEMBAKARAN BENDERA ATAUKAH PENISTAAN TAUHID?

“CADARISME” DAN ISLAM WASATIYYAH

Oleh : Nisa Khairuni
Penulis adalah tim redaksi Jurnal Ilmiah Dayah : Journal of Islamic Education,
Prodi S2 Pendidikan Agama Islam Pascasarjana
UIN Ar-Raniry 


Beberapa hari lalu, terjadi pertemuan ulama-ulama dunia dalam acara Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia di Istana Bogor, Jawa Barat (1-3/5/2018). Salah satu pesan yang dihasilkan dalam pertemuan penting tersebut adalah mengenai pentingnya mengembangkan Islam Wasatiyyah (Islam Moderat).

Tulisan berikut tidak membahas secara spesifik pesan KTT di atas, akan tetapi mencoba mengangkat isu yang juga masih hangat diperdebatkan tentang cadar dan hubungannya dengan pesan Islam Wasatiyyah hasil KTT tersebut di atas.

Cadarisme, UU Pendidikan Tinggi dan Islam Wasatiyyah
Tentu kita masih ingat bagaimana isu cadar menjadi fenomena perdebatan, terutama ketika terjadi pelarangan cadar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pada waktu itu Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Yudian Wahyu sempat melakukan pembinaan dan menyebut cadar identik dengan radikalisme, sehingga dikeluarkanlah Surat Rektor No B- 1301/Un.02/R/AK.00.3/02/2018 tentang Pembinaan Mahasiswi Bercadar.  

Read more: “CADARISME” DAN ISLAM WASATIYYAH

Vitamin C untuk Penggemar MedSos

By : Rizanna Rosemary
PhD candidate in Health Communication di Department of Media and Communication,
Faculty of Arts and Social Science, University of Sydney, Australia

buIjan edit

Sejak kapan netizen butuh vitamin, khususnya vitamin C; dan apa kaitannya dengan media sosial? Barangkali demikian pertanyaan pembaca saat membaca judul tulisan ini. 

Sebelum bicara hubungan vitamin C dengan media sosial atau medsos, jawaban penulis tentang vitamin C cukup sederhana. Sebagaimana yang sakit butuh obat dan vitamin untuk proses penyembuhan, yang tidak sakit pun perlu vitamin untuk menjaga stamina dan kesehatan tubuhnya. Nah, vitamin C yang dimaksud dalam tulisan ini boleh jadi berbeda secara bentuk dengan vitamin yang dikonsumsi dua kelompok tersebut diatas. Tapi yang penulis maksud adalah sama secara sifat dan fungsi dengan definisi vitamin sebagai suplemen yang biasa dikonsumsi orang untuk membantu proses pertumbuhan dan perbaikan jaringan dalam tubuhnya. 

Sayangnya, analogi tersebut barangkali tidak sesederhana ketika berbicara tentang dunia media online atau medsos yang penuh warna dan dinamika. Khususnya bicara tentang perilaku penggunanya—netizen, yang semakin hari membuat kita terbelalak; antara terpana karena kagum akan cepat dan banyaknya informasi yang diperbincangkan dan dipertukarkan netizen, atau sebaliknya terganggu dengan berbagai jawaban dan komentar penggunanya yang terkadang provokatif dan mengandung kebencian.

Read more: Vitamin C untuk Penggemar MedSos

Where should we rebuild after a disaster?

Authors:
Jamie McCaughey, Ibnu Mundzir,
Saiful Mahdi, and Patrick Daly

In 2004, a devastating tsunami struck coastlines around the Indian Ocean. Examining the long-term recovery of the city of Banda Aceh, Indonesia, we found that reconstruction aid provided mostly near the coast, combined with many people's preferences to move to safer areas instead, has had the unintended consequence that the poor have become disproportionately exposed to coastal hazards.

We published these findings in Nature Sustainability (see also a commentary  and blog post). For this and other studies, researchers from the Earth Observatory of Singapore, Nanyang Technological University teamed up with our colleagues at the International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies and Syiah Kuala University in Banda Aceh, Indonesia.

Banda Aceh and surroundings after reconstruction. The tsunami reached ~3 km inland across the low-lying terrain. Following this, the international reconstruction effort rebuilt mostly in-place in areas near the coast


As we detail in our paper and  blog post, this study looks at the question of where to rebuild after a disaster. This decision often involves a difficult tradeoff: rebuilding in-place puts people back in disaster-prone areas, yet mass relocation projects often have negative impacts on people's livelihoods, land rights, and connections to their community. The international humanitarian sector often favors rebuilding in-place, but is this always what people want after a devastating disaster?

Read more: Where should we rebuild after a disaster?

Habaib in Southeast Asia: A Review

By : Nia Deliana
A Lecturer in International Islamic University of Malaysia

nia

Ismail Fajri Alatas, “Habaib in South East Asia” in The Encyclopedia of Islam Volume III edited by Kate Fleet, Gudrun Kramer, Denis Matringe, John Nawas, and Everett Rowson, Leiden : Brill, 2018.

A subtitle “Habaib in Southeast Asia” authored by Ismail Fajri al Attas published in The Encyclopedia of Islam Volume III gives a brief description on the origin and role transformation of the Habaib in Southeast Asia as early as 15 th to the present time. It is crucial to note here that this referential works give no attention to the role of Aceh in the transformation of the Habaib in this region.

It begin with explaining the terminology of the words and its meaning. ‘Habib’ is a label awarded by the indigenous population as a gratitude to a prophet descendant traced their lineage to Ahmad bin Isa, the grand grandson of the prophet Muhammad SAW who emigrated from Basra to Hadhramawt in the 10 th century, in which later they pioneered numerous religious and political establishments. One of them is in Sufism field where Tariqat al Alawiyyah flourished and spread to Southeast Asia which persisted till the very present time. In these 4 pages narratives, Prof Alatas mentioned that the Habib was the earliest known Muslim missionaries in Southeast Asia, traced their existence to the 15 th century period. Yes, their origin in this area is pretty much debatable where one of the arguments indeed relates evidences of their existence as early as 9th century, appointing to inhibition of Lamuri, a long lost area once situated in the Northern part of Sumatra.

Read more: Habaib in Southeast Asia: A Review

 banner 001

 

Call for Article
ICAIOS welcomes scholars and researchers to publish scientific or popular articles. See the article guideline HERE

Want to get more involved with ICAIOS activities?
If yes, complete the form here

Also check our latest Public Discussion and Guest Lecture Series videos
Subscribe us on Youtube  

 

 

 

 

Popular Article

iconKM2

Links

logoGlobedlogo eossmeruccis logo newIDRPerakSmall logo1