Apa Salah si Kambing Hitam

By : Adri Syakir
Penulis adalah lulusan Universitas Syiah Kuala
Email :adri.syakir@gmail.com

fotoAdri

Kalau orang bule punya istilah “scapegoat”, orang Indonesia tidak mau kalah membuat istilah sendiri, “Kambing Hitam”.  Siapa yang tidak tahu kambing hitam? Sepertinya kebanyakan orang Indonesia mengetahui apa makna kambing hitam, makhluk populer teman “buaya darat”. Konotasi kambing hitam memang sarat dengan hal negatif, pesakitan, tumbal alias pihak yang disalahkan, tapi konotasinya akan berubah positif kalau si kambing diolah menjadi gulai kambing atau kambing guling.

Fenomena kambing hitam atau mengkambing hitamkan orang lain sudah menjamur di masyarakat sejak dulu, bahkan sejak Negara ini belum merdeka, atau mungkin lebih lama lagi, siapa yang tahu. Secara istilah, kambing hitam bermakna orang atau suatu faktor eksternal yang sebenarnya tidak bersalah, tetapi dituduh bersalah atau dijadikan tumpuan kesalahan. Namun masyarakat Indonesia tidak perlu berkecil hati, fenomena ini terjadi juga pada masyarakat di seluruh dunia baik di negara maju, berkembang, atau miskin. Tentu saja embel-embel Indonesia sudah merdeka namun pemikiran masyarakat masih terjajah, tidak akan mempan menjelaskan fenomena “perkambinghitaman” ini.

Read more: Apa Salah si Kambing Hitam

Restoring Faith: Women Entrepreneurs in Post-tsunami Aceh

Salmawati, Abon Ikan Home Industry
Written by 
Maida Irawani

I had no idea about Seasoned fish meat floss (“abon ikan) until my husband shared the recipe to me after he participated on a Seasoned fish meat floss training organized by Banda Aceh Mayor Office in 1998. I was so curious about it as I never knew how it looks like and the taste. At first, I tried to cook it and the taste was strange, too sweet and not delicious. I was sure that Acehnese would not like it.

I did not give up and keep trying for many times, as I really wanted to earn additional income to support my family. My daughter initiated to sell my abon ikan in her school and many students bought it. However I received complaints from students’ parent, as they did not know what the product was, no product label and they did not familiar with abon. Later I had to organize P-IRT permit (food industry household permit) and we decided to put our son’s name on our product name “ Abon Tuna Saputra”.

The product was accepted in the market and our life change afterwards. I received many orders for my product and became well known after being promoted on TV and also my factory was visited by the previous Indonesian president, Megawati.  I was invited to be Abon trainer and my business kept growing and successful. I had 18 workers who worked with me to produce tuna abon industry and later our business was expanded. Tragically, tsunami 2004 killed three of my children and destroyed house and all business that we had established.

Read more: Restoring Faith: Women Entrepreneurs in Post-tsunami Aceh

“Have You Plagiarized?” -The Complex Contexts of Plagiarism

By : Faishal Zakaria
Writer is an LPDP awarde and is currently working on his PhD in Literacy, Culture, and Language Education (LCLE) at Indiana University Bloomington, Indiana, USA
Email : fzakaria@indiana.edu

FZ 001“Have you plagiarized?” Surely, no one would be happy to be asked such a question because the question indicates that a form of academic dishonesty has allegedly been performed. In the West, issues of plagiarism would be seriously addressed and the perpetrators would be severely punished. Many important people have been forcibly removed from their positions because they were accused of committing acts of plagiarism or there were many cases where universities had to revoked academic degrees they had awarded because the holders were believed to have plagiarized their academic works. Similarly, issues of plagiarism have also been deemed crucial in Indonesia. Nonetheless, cases of plagiarism keep appearing. What is wrong here? Who is to be blamed? 

Perhaps in most writing classes, plagiarism is a big concern and it is not easy to solve. Many teachers are tempted to immediately blame the students whenever they attempted to do an act of plagiarism and regard them as those who do not have academic integrity, honesty, and, even worse, critical thinking. The term “plagiarism” might not seem so alien to students in the western contexts but those in or from the eastern contexts might likely see it differently. This means the idea of plagiarism is somewhat seen differently across cultures (Bloch, 2008)

Read more: “Have You Plagiarized?” -The Complex Contexts of Plagiarism

Memaknai Hari Lingkungan Sedunia dengan Cinta


Oleh : Sarmiyati

Penulis adalah Alumnus Prodi Pendidikan Biologi
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan 
UIN Ar-Raniry
Email : sarmiyati1815@gmail.com

Diantara tanggal penting yang diperingati setiap tanggal 5 Juni di seluruh dunia, termasuk Indonesia, adalah hari Lingkungan Sedunia. Meski gaungnya mungkin tidak seheboh peringatan tanggal penting lainnya, Hari Lingkungan Sedunia yang pertama kali dicetuskan pada tahun 1972 ini pada dasarnya memiliki tujuan mulia sebagai gerakan untuk meningkatkan kesadaran hidup manusia sejagat.

Ditinjau dari segi sejarahnya, kesadaran akan permasalahan lingkungan ini mengemuka pada tahun 1970-an saat pelaksanaan Konferensi Stockholm tahun 1972. Di antara isu penting yang dibahas dalam konferensi ini adalah terkait dengan permasalahan lingkungan (United Nation Confrence of Human Enviroment, UNCHE). Konferensi yang diselengarakan pada tanggal 5-12 Juni 1972 ini akhirnya menetapkan tanggal 5 Juni sebagai hari Lingkungan Hidup Sedunia. Berikutnya pada tahun 1987 terbentuklah suatu Komisi Dunia tentang Lingkungan Hidup dan Pembangunan (World Commision on Enviroment and Development), sehingga melahirkan sebuah konsep yang berkelanjutan. Hal ini kemudian diperkuat lagi dalam konferensi di Rio de Jenairo, Brasil, pada tahun 1992 yang diadakan oleh Majelis Umum PBB.

Read more: Memaknai Hari Lingkungan Sedunia dengan Cinta

EUTHANASIA = KEPUTUSASAAN?


Oleh : Maulida
Penulis adalah Volunteer prodi Pendidikan Agama Islam dan
Jurnal Ilmiah Islam Futura Pascasarjana UIN Ar-Raniry

Beberapa waktu lalu, masyarakat Aceh digegerkan sebuah peristiwa unik. Hal tersebut berawal dari seorang warga korban penggusuran barak Bakoy pada bulan lalu yang berniat melakukan euthanasia (suntik mati). Korban penggusuran tersebut bernama Berlin Silalahi (46), dibantu sang istri mengajukan permohonan ke Pengadilan Negeri Banda Aceh pada 3 Mei 2017 lalu. Pengajuan permohonan euthanasia yang dilakukan Berlin sendiri bukan tanpa alasan, melainkan hal tersebut dilakukan karena kondisi Berlin yang lumpuh sejak tahun 2013 lalu yang tidak mampu untuk bekerja menafkahi keluarganya. Namun, permohonan yang dilakukan Berlin tersebut ditolak oleh hakim Pengadilan Negeri Banda Aceh, karena euthanasia belum dikenal dalam hukum Indonesia dan juga dilarang dalam agama Islam. (Serambi Indonesia, 3/5/2017). 

Kasus euthanasia yang diajukan Berlin bukanlah satu-satunya kasus yang terjadi di dunia, melainkan telah banyak terjadi di negara-negara lain, salah satunya adalah Belanda yang merupakan negara pertama yang melakukan euthanasia tepatnya pada tahun 2001 yang lalu yang selanjutnya diikuti Belgia setahun kemudian. Proses permohonan untuk euthanasiapun harus melewati proses yang sangat panjang, dimana pemohon sendiri harus mendapatkan konseling dengan psikologi dalam periode tertentu. Selanjutnya, pasien juga diberikan waktu untuk berpikir dalam periode yang telah ditentukan, kemudian pemohon harus mendapatkan sertifikat minimal dari dua orang dokter dengan pernyataan bahwa kondisi pasien sudah tidak dapat tertolong lagi.  Setelah melewati proses yang sangat panjang, baru diajukan ke pengadilan untuk mendapatkan keputusan. 

Read more: EUTHANASIA = KEPUTUSASAAN?

Call for Article
ICAIOS welcomes scholars and researchers to publish scientific or popular articles. See the article guideline HERE

Want to get more involved with ICAIOS activities?
If yes, complete the form here

Also check our latest Public Discussion and Guest Lecture Series videos
Subscribe us on Youtube  

iconKM2

Links

logoGlobedlogo eossmeruccis logo newIDRPerakSmall logo1