Kota Madani dan Gemilang


Oleh : Asrul Sidiq
Penulis adalah Staf Pengajar PWK Unsyiah

Kota Banda Aceh genap berumur 812 tahun bertepatan pada tanggal 22 April 2017 yang lalu bersamaan dengan Hari Bumi. Umur yang kalau dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia ada yang memasukkannya dalam daftar lima kota tertua di Indonesia. Dari beberapa sumber yang penulis telusuri hanya tiga kota yang lebih tua dari Banda Aceh yaitu Palembang, Salatiga, dan Magelang.

Dari beberapa penelusuran di dunia maya pada tanggal tersebut, warga Kota Banda Aceh terlihat lebih familiar dengan Hari Bumi dan Hari Kartini yang jatuh sehari sebelumnya dibandingkan dengan hari jadi Kota Banda Aceh sendiri. Hal ini membuat penulis teringat akan pengalaman ketika menghadiri pertemuan antar kota, dimana ketika kota-kota seperti Bandung, Pontianak, dan Semarang familiar disebut dengan nama kota mereka. Sementara ketika menyebut Banda Aceh sering kali disebut dengan Aceh walaupun jelas pada saat itu hadir sebagai perwakilan kota. Sama ketika tamu dari luar Aceh akan datang ke Banda Aceh, maka jarang sekali mendengar bahwa mereka menyebut akan ke Banda Aceh seperti menyebut akan ke Medan, Padang, dan Ambon. Namun sebutan yang sering terdengar adalah akan ke Aceh meskipun lokasi yang dituju sebenarnya adalah spesifik ke Banda Aceh. Seolah-olah Banda Aceh belum memiliki identitas khusus/spesial sebagai ibukota provinsi yang membedakan dengan Aceh sebagai provinsi.

Read more: Kota Madani dan Gemilang

’WIFI’: Menumbuhkan Energi para Pembelajar

 
Oleh : T. Zulfikar Akarim
Penulis adalah Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Warung kopi di Aceh merupakan intitusi sosial yang memiliki sejarah panjang. Hampir di setiap sudut kota maupun pedesaan di Aceh banyak dipenuhi dengan warung kopi. Bahkan, sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, banyak orang Aceh menghabiskan pagi mereka sebelum melakukan kegiatan lainnya untuk sekedar mencicipi segelas kopi di warung kopi. Mereka yang berasal dari perkotaan, pedesaan, kalangan mahasiswa, profesional, sampai eksekutif maupun legeslatif mencicipi segelas kopi di warung kopi. 

Bagi kebanyakan orang Aceh, baik pecinta kopi maupun tidak, mengunakan institusi warung kopi untuk bersosialisasi. Misalnya, pembicaraan yang terjadi bisa berkisar masalah politik, pendidikan, olah raga, sampai hal-hal yang remeh temeh.

Ketika jaman sudah berubah, bisnis-bisnis bercorak internasional, seperti KFC dan lain sebagainya, sudah bermunculan di Aceh, bahkan ketika pertumbuhan teknologi tak terbendung lagi, institusi sosial warung kopi masih terus berkembang, dia tidak tergilas zaman, bahkan dia bersinergi dengan pertumbuhan teknologi tersebut.

Read more: ’WIFI’: Menumbuhkan Energi para Pembelajar

Ibarat Peribahasa, Mengerjakan Skripsi itu ….

 

Oleh : Ibnu Munzir
Penulis adalah Alumni Pennsylvania State University, US

 

Ibnu Mundir

Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Pembimbing saya berkisah ia sering menemui dua jenis mahasiswa/i yang memulai tugas akhir bersamaan. Sebut saja nama mereka: Tekun dan Cemerlang. Tekun tidaklah secerdas Cemerlang. Cemerlang juga tidak serajin Tekun. Cemerlang pun dengan penuh empati heran mengapa Tekun mengalami banyak kesulitan dan harus bersusah payah mengerjakan sesuatu yang dapat Cemerlang lakukan dengan mudah. Di sisi lain, Tekun terus mencicil tugasnya sembari menghadapi segala hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan bagi stabilitas tugas akhirnya. Cemerlang santai, toh ia percaya dengan kedigjayaannya. Hari bertukar pekan; pekan berubah bulan; dan bulan pun menghantarkan ujung semester, Tekun hampir menyelesaikan tugasnya sementara Cemerlang belum ke mana-mana. Sehari selembar benang, lama-lama sehelai kain; Sehari selembar draft, lama-lama sejilid skripsi.

Read more: Ibarat Peribahasa, Mengerjakan Skripsi itu ….

Terrorism, Between Idealism and Human Nature

By : Adri Syakir
Writer is a graduate from Syiah Kuala University, Indonesia

Ever we wonder what exactly is the root of all terrorism? Some might say it is because of evil idealism of some people or some groups. But when we talk about terrorism, there is not only adult people involve, but young people also, even a boy below 15 years old was involved in terrorism nowadays. Then we ask again, is it possible for people in such a young age develop such evil idealism that root to large scale terrorism by their self? or why would young people easily belief in evil idealism that taught to them?. The answer for the first question is maybe, because psychologically it is possible. But the answer for the second question is because of their “terrorist” ecosystem.

            Let us think terrorism as human nature, that means we all have “terrorist” nature inside our self. To affirm my opinion, let us see some examples about what I called small scale terrorism. We already know that bullying happened much in school inside young people “territory” between superior group of young people and inferior group of young people. The bullying itself is some form of small scale terrorism, because it invades other people freedoms. Then, another example about small scale terrorism is when some groups gossiping about the badness or the deficiency or other people, it is clearly invade other people privacy. Again I am going to say this is examples of small scale terrorism.

Read more: Terrorism, Between Idealism and Human Nature

PILKADA ACEH : JANGAN PILIH PEMIMPIN BUSUK

 

Oleh : Anton Widyanto
Penulis adalah Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh

 

Anton

Tiga belas tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 29 Desember 2003, patung monumen kemerdekaan Jakarta dan hujan yang mengguyur ketika itu menjadi saksi dideklarasikannya Gerakan Nasional Jangan Pilih Politisi Busuk (GNJPPB). Gerakan moral pra pelaksanaan Pemilu 2004 itu didukung penuh oleh beberapa kalangan terkemuka meliputi cendekiawan, politisi, sejarawan, sosiolog, tokoh LSM dan tokoh-tokoh mahasiswa. Tercatat beberapa nama kawakan seperti: (alm) Nurchalis Madjid, Faisal Basri, Anhar Gonggong, Imam B. Prasodjo, Sarwono Kusumaatmaja, Ali Sadikin, Farid R. Faqih, Rico Marbun dll. Gerakan mulia ini pada hakikatnya merupakan gerakan yang “geram” melihat kondisi politik nasional selama ini yang masih coreng moreng dengan segala variasi kebusukan baik pada level politisinya maupun sepak terjang politiknya.

Read more: PILKADA ACEH : JANGAN PILIH PEMIMPIN BUSUK

 banner 001

 

Call for Article
ICAIOS welcomes scholars and researchers to publish scientific or popular articles. See the article guideline HERE

Want to get more involved with ICAIOS activities?
If yes, complete the form here

Also check our latest Public Discussion and Guest Lecture Series videos
Subscribe us on Youtube  

 

 

 

 

Popular Article

"Cadarisme" dalam Islam Wasatiyyah
by : Nisa Khairuni
nisaa


Vitamin C untuk Penggemar MedSos
by : Rizanna Rosemary
buIjan edit


Habaib in Southeast Asia: A Review
by : Nia Deliana
nia


 

 

 

 

 

iconKM2

Links

logoGlobedlogo eossmeruccis logo newIDRPerakSmall logo1