Memaknai Hari Lingkungan Sedunia dengan Cinta


Oleh : Sarmiyati

Penulis adalah Alumnus Prodi Pendidikan Biologi
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan 
UIN Ar-Raniry
Email : sarmiyati1815@gmail.com

Diantara tanggal penting yang diperingati setiap tanggal 5 Juni di seluruh dunia, termasuk Indonesia, adalah hari Lingkungan Sedunia. Meski gaungnya mungkin tidak seheboh peringatan tanggal penting lainnya, Hari Lingkungan Sedunia yang pertama kali dicetuskan pada tahun 1972 ini pada dasarnya memiliki tujuan mulia sebagai gerakan untuk meningkatkan kesadaran hidup manusia sejagat.

Ditinjau dari segi sejarahnya, kesadaran akan permasalahan lingkungan ini mengemuka pada tahun 1970-an saat pelaksanaan Konferensi Stockholm tahun 1972. Di antara isu penting yang dibahas dalam konferensi ini adalah terkait dengan permasalahan lingkungan (United Nation Confrence of Human Enviroment, UNCHE). Konferensi yang diselengarakan pada tanggal 5-12 Juni 1972 ini akhirnya menetapkan tanggal 5 Juni sebagai hari Lingkungan Hidup Sedunia. Berikutnya pada tahun 1987 terbentuklah suatu Komisi Dunia tentang Lingkungan Hidup dan Pembangunan (World Commision on Enviroment and Development), sehingga melahirkan sebuah konsep yang berkelanjutan. Hal ini kemudian diperkuat lagi dalam konferensi di Rio de Jenairo, Brasil, pada tahun 1992 yang diadakan oleh Majelis Umum PBB.

Read more: Memaknai Hari Lingkungan Sedunia dengan Cinta

“Have You Plagiarized?” -The Complex Contexts of Plagiarism

By : Faishal Zakaria
Writer is an LPDP awarde and is currently working on his PhD in Literacy, Culture, and Language Education (LCLE) at Indiana University Bloomington, Indiana, USA
Email : fzakaria@indiana.edu

FZ 001“Have you plagiarized?” Surely, no one would be happy to be asked such a question because the question indicates that a form of academic dishonesty has allegedly been performed. In the West, issues of plagiarism would be seriously addressed and the perpetrators would be severely punished. Many important people have been forcibly removed from their positions because they were accused of committing acts of plagiarism or there were many cases where universities had to revoked academic degrees they had awarded because the holders were believed to have plagiarized their academic works. Similarly, issues of plagiarism have also been deemed crucial in Indonesia. Nonetheless, cases of plagiarism keep appearing. What is wrong here? Who is to be blamed? 

Perhaps in most writing classes, plagiarism is a big concern and it is not easy to solve. Many teachers are tempted to immediately blame the students whenever they attempted to do an act of plagiarism and regard them as those who do not have academic integrity, honesty, and, even worse, critical thinking. The term “plagiarism” might not seem so alien to students in the western contexts but those in or from the eastern contexts might likely see it differently. This means the idea of plagiarism is somewhat seen differently across cultures (Bloch, 2008)

Read more: “Have You Plagiarized?” -The Complex Contexts of Plagiarism

Restoring Faith: Women Entrepreneurs in Post-tsunami Aceh

Adawiyah, Aceh Batik Trainer and Emboider
Written by 
Maida Irawani

“I was only a housewife and only did domestic chores but now live changes.” The 2004’s tsunami destroyed our home and lives. We were survived from the tsunami but we had nothing left except what we had in our body. We displaced to a safe area located around 2 km from our home and live together under the tents with hundreds of people who also lost their everything on that tragic natural disaster. Life was difficult for us as we relied on the aids and supports from donors or NGOs. My husband could not work as the school where my husband work as a teacher was also vanished.

I did not lose hope and faith because of the condition that we faced, I did what ever I could do to survive. When I was young, I used to be able to play rebana or tambourine, this skill helped me to become one of the village facilitator to teach the children in a displaced camp. For about two years, I was recruited to support in psychosocial activity, teaching the children how to play rebana and Islamic Nasheed. It was in 2007 when we decided to return to our village and rebuild back our lives. I participated on some vocational training such as sewing, embroidery and was selected to be one out of 40 villagers who participated on Batik training in Java and later became the member of Rumoh Batik Cooperatives, a new livelihood concept developed by Indonesian Rehabilitation and Reconstruction Agency to restore the community livelihood in my village. We received supports from training, tools, capital, assistances in management and marketing, and also network. It was successful at the beginning, we received many orders both from government and publics and often being invited in exhibitions. However, this glory came to an end by 2010 as the orders and selling was decreased in numbers due to the decrease of the quality of our products and also our product could not compete in the market as people prefer to buy Java Batik as the price is cheaper than Aceh Batik.

Read more: Restoring Faith: Women Entrepreneurs in Post-tsunami Aceh

EUTHANASIA = KEPUTUSASAAN?


Oleh : Maulida
Penulis adalah Volunteer prodi Pendidikan Agama Islam dan
Jurnal Ilmiah Islam Futura Pascasarjana UIN Ar-Raniry

Beberapa waktu lalu, masyarakat Aceh digegerkan sebuah peristiwa unik. Hal tersebut berawal dari seorang warga korban penggusuran barak Bakoy pada bulan lalu yang berniat melakukan euthanasia (suntik mati). Korban penggusuran tersebut bernama Berlin Silalahi (46), dibantu sang istri mengajukan permohonan ke Pengadilan Negeri Banda Aceh pada 3 Mei 2017 lalu. Pengajuan permohonan euthanasia yang dilakukan Berlin sendiri bukan tanpa alasan, melainkan hal tersebut dilakukan karena kondisi Berlin yang lumpuh sejak tahun 2013 lalu yang tidak mampu untuk bekerja menafkahi keluarganya. Namun, permohonan yang dilakukan Berlin tersebut ditolak oleh hakim Pengadilan Negeri Banda Aceh, karena euthanasia belum dikenal dalam hukum Indonesia dan juga dilarang dalam agama Islam. (Serambi Indonesia, 3/5/2017). 

Kasus euthanasia yang diajukan Berlin bukanlah satu-satunya kasus yang terjadi di dunia, melainkan telah banyak terjadi di negara-negara lain, salah satunya adalah Belanda yang merupakan negara pertama yang melakukan euthanasia tepatnya pada tahun 2001 yang lalu yang selanjutnya diikuti Belgia setahun kemudian. Proses permohonan untuk euthanasiapun harus melewati proses yang sangat panjang, dimana pemohon sendiri harus mendapatkan konseling dengan psikologi dalam periode tertentu. Selanjutnya, pasien juga diberikan waktu untuk berpikir dalam periode yang telah ditentukan, kemudian pemohon harus mendapatkan sertifikat minimal dari dua orang dokter dengan pernyataan bahwa kondisi pasien sudah tidak dapat tertolong lagi.  Setelah melewati proses yang sangat panjang, baru diajukan ke pengadilan untuk mendapatkan keputusan. 

Read more: EUTHANASIA = KEPUTUSASAAN?

Kota Madani dan Gemilang


Oleh : Asrul Sidiq
Penulis adalah Staf Pengajar PWK Unsyiah

Kota Banda Aceh genap berumur 812 tahun bertepatan pada tanggal 22 April 2017 yang lalu bersamaan dengan Hari Bumi. Umur yang kalau dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia ada yang memasukkannya dalam daftar lima kota tertua di Indonesia. Dari beberapa sumber yang penulis telusuri hanya tiga kota yang lebih tua dari Banda Aceh yaitu Palembang, Salatiga, dan Magelang.

Dari beberapa penelusuran di dunia maya pada tanggal tersebut, warga Kota Banda Aceh terlihat lebih familiar dengan Hari Bumi dan Hari Kartini yang jatuh sehari sebelumnya dibandingkan dengan hari jadi Kota Banda Aceh sendiri. Hal ini membuat penulis teringat akan pengalaman ketika menghadiri pertemuan antar kota, dimana ketika kota-kota seperti Bandung, Pontianak, dan Semarang familiar disebut dengan nama kota mereka. Sementara ketika menyebut Banda Aceh sering kali disebut dengan Aceh walaupun jelas pada saat itu hadir sebagai perwakilan kota. Sama ketika tamu dari luar Aceh akan datang ke Banda Aceh, maka jarang sekali mendengar bahwa mereka menyebut akan ke Banda Aceh seperti menyebut akan ke Medan, Padang, dan Ambon. Namun sebutan yang sering terdengar adalah akan ke Aceh meskipun lokasi yang dituju sebenarnya adalah spesifik ke Banda Aceh. Seolah-olah Banda Aceh belum memiliki identitas khusus/spesial sebagai ibukota provinsi yang membedakan dengan Aceh sebagai provinsi.

Read more: Kota Madani dan Gemilang

Call for Article
ICAIOS welcomes scholars and researchers to publish scientific or popular articles. See the article guideline HERE

Want to get more involved with ICAIOS activities?
If yes, complete the form here

Also check our latest Public Discussion and Guest Lecture Series videos
Subscribe us on Youtube  

 

 

 

Popular Article

Vitamin C untuk Penggemar MedSos
by : Rizanna Rosemary
buIjan edit


Habaib in Southeast Asia: A Review
by : Nia Deliana
nia


 Apa Salah si Kambing Hitam
by : Adri Syakir
fotoAdri


 

 

 

 

 

iconKM2

Links

logoGlobedlogo eossmeruccis logo newIDRPerakSmall logo1