EUTHANASIA = KEPUTUSASAAN?


Oleh : Maulida
Penulis adalah Volunteer prodi Pendidikan Agama Islam dan
Jurnal Ilmiah Islam Futura Pascasarjana UIN Ar-Raniry

Beberapa waktu lalu, masyarakat Aceh digegerkan sebuah peristiwa unik. Hal tersebut berawal dari seorang warga korban penggusuran barak Bakoy pada bulan lalu yang berniat melakukan euthanasia (suntik mati). Korban penggusuran tersebut bernama Berlin Silalahi (46), dibantu sang istri mengajukan permohonan ke Pengadilan Negeri Banda Aceh pada 3 Mei 2017 lalu. Pengajuan permohonan euthanasia yang dilakukan Berlin sendiri bukan tanpa alasan, melainkan hal tersebut dilakukan karena kondisi Berlin yang lumpuh sejak tahun 2013 lalu yang tidak mampu untuk bekerja menafkahi keluarganya. Namun, permohonan yang dilakukan Berlin tersebut ditolak oleh hakim Pengadilan Negeri Banda Aceh, karena euthanasia belum dikenal dalam hukum Indonesia dan juga dilarang dalam agama Islam. (Serambi Indonesia, 3/5/2017). 

Kasus euthanasia yang diajukan Berlin bukanlah satu-satunya kasus yang terjadi di dunia, melainkan telah banyak terjadi di negara-negara lain, salah satunya adalah Belanda yang merupakan negara pertama yang melakukan euthanasia tepatnya pada tahun 2001 yang lalu yang selanjutnya diikuti Belgia setahun kemudian. Proses permohonan untuk euthanasiapun harus melewati proses yang sangat panjang, dimana pemohon sendiri harus mendapatkan konseling dengan psikologi dalam periode tertentu. Selanjutnya, pasien juga diberikan waktu untuk berpikir dalam periode yang telah ditentukan, kemudian pemohon harus mendapatkan sertifikat minimal dari dua orang dokter dengan pernyataan bahwa kondisi pasien sudah tidak dapat tertolong lagi.  Setelah melewati proses yang sangat panjang, baru diajukan ke pengadilan untuk mendapatkan keputusan. 

Read more: EUTHANASIA = KEPUTUSASAAN?

Restoring Faith: Women Entrepreneurs in Post-tsunami Aceh

Adawiyah, Aceh Batik Trainer and Emboider
Written by 
Maida Irawani

“I was only a housewife and only did domestic chores but now live changes.” The 2004’s tsunami destroyed our home and lives. We were survived from the tsunami but we had nothing left except what we had in our body. We displaced to a safe area located around 2 km from our home and live together under the tents with hundreds of people who also lost their everything on that tragic natural disaster. Life was difficult for us as we relied on the aids and supports from donors or NGOs. My husband could not work as the school where my husband work as a teacher was also vanished.

I did not lose hope and faith because of the condition that we faced, I did what ever I could do to survive. When I was young, I used to be able to play rebana or tambourine, this skill helped me to become one of the village facilitator to teach the children in a displaced camp. For about two years, I was recruited to support in psychosocial activity, teaching the children how to play rebana and Islamic Nasheed. It was in 2007 when we decided to return to our village and rebuild back our lives. I participated on some vocational training such as sewing, embroidery and was selected to be one out of 40 villagers who participated on Batik training in Java and later became the member of Rumoh Batik Cooperatives, a new livelihood concept developed by Indonesian Rehabilitation and Reconstruction Agency to restore the community livelihood in my village. We received supports from training, tools, capital, assistances in management and marketing, and also network. It was successful at the beginning, we received many orders both from government and publics and often being invited in exhibitions. However, this glory came to an end by 2010 as the orders and selling was decreased in numbers due to the decrease of the quality of our products and also our product could not compete in the market as people prefer to buy Java Batik as the price is cheaper than Aceh Batik.

Read more: Restoring Faith: Women Entrepreneurs in Post-tsunami Aceh

’WIFI’: Menumbuhkan Energi para Pembelajar

 
Oleh : T. Zulfikar Akarim
Penulis adalah Dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Warung kopi di Aceh merupakan intitusi sosial yang memiliki sejarah panjang. Hampir di setiap sudut kota maupun pedesaan di Aceh banyak dipenuhi dengan warung kopi. Bahkan, sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, banyak orang Aceh menghabiskan pagi mereka sebelum melakukan kegiatan lainnya untuk sekedar mencicipi segelas kopi di warung kopi. Mereka yang berasal dari perkotaan, pedesaan, kalangan mahasiswa, profesional, sampai eksekutif maupun legeslatif mencicipi segelas kopi di warung kopi. 

Bagi kebanyakan orang Aceh, baik pecinta kopi maupun tidak, mengunakan institusi warung kopi untuk bersosialisasi. Misalnya, pembicaraan yang terjadi bisa berkisar masalah politik, pendidikan, olah raga, sampai hal-hal yang remeh temeh.

Ketika jaman sudah berubah, bisnis-bisnis bercorak internasional, seperti KFC dan lain sebagainya, sudah bermunculan di Aceh, bahkan ketika pertumbuhan teknologi tak terbendung lagi, institusi sosial warung kopi masih terus berkembang, dia tidak tergilas zaman, bahkan dia bersinergi dengan pertumbuhan teknologi tersebut.

Read more: ’WIFI’: Menumbuhkan Energi para Pembelajar

Kota Madani dan Gemilang


Oleh : Asrul Sidiq
Penulis adalah Staf Pengajar PWK Unsyiah

Kota Banda Aceh genap berumur 812 tahun bertepatan pada tanggal 22 April 2017 yang lalu bersamaan dengan Hari Bumi. Umur yang kalau dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia ada yang memasukkannya dalam daftar lima kota tertua di Indonesia. Dari beberapa sumber yang penulis telusuri hanya tiga kota yang lebih tua dari Banda Aceh yaitu Palembang, Salatiga, dan Magelang.

Dari beberapa penelusuran di dunia maya pada tanggal tersebut, warga Kota Banda Aceh terlihat lebih familiar dengan Hari Bumi dan Hari Kartini yang jatuh sehari sebelumnya dibandingkan dengan hari jadi Kota Banda Aceh sendiri. Hal ini membuat penulis teringat akan pengalaman ketika menghadiri pertemuan antar kota, dimana ketika kota-kota seperti Bandung, Pontianak, dan Semarang familiar disebut dengan nama kota mereka. Sementara ketika menyebut Banda Aceh sering kali disebut dengan Aceh walaupun jelas pada saat itu hadir sebagai perwakilan kota. Sama ketika tamu dari luar Aceh akan datang ke Banda Aceh, maka jarang sekali mendengar bahwa mereka menyebut akan ke Banda Aceh seperti menyebut akan ke Medan, Padang, dan Ambon. Namun sebutan yang sering terdengar adalah akan ke Aceh meskipun lokasi yang dituju sebenarnya adalah spesifik ke Banda Aceh. Seolah-olah Banda Aceh belum memiliki identitas khusus/spesial sebagai ibukota provinsi yang membedakan dengan Aceh sebagai provinsi.

Read more: Kota Madani dan Gemilang

Terrorism, Between Idealism and Human Nature

By : Adri Syakir
Writer is a graduate from Syiah Kuala University, Indonesia

Ever we wonder what exactly is the root of all terrorism? Some might say it is because of evil idealism of some people or some groups. But when we talk about terrorism, there is not only adult people involve, but young people also, even a boy below 15 years old was involved in terrorism nowadays. Then we ask again, is it possible for people in such a young age develop such evil idealism that root to large scale terrorism by their self? or why would young people easily belief in evil idealism that taught to them?. The answer for the first question is maybe, because psychologically it is possible. But the answer for the second question is because of their “terrorist” ecosystem.

            Let us think terrorism as human nature, that means we all have “terrorist” nature inside our self. To affirm my opinion, let us see some examples about what I called small scale terrorism. We already know that bullying happened much in school inside young people “territory” between superior group of young people and inferior group of young people. The bullying itself is some form of small scale terrorism, because it invades other people freedoms. Then, another example about small scale terrorism is when some groups gossiping about the badness or the deficiency or other people, it is clearly invade other people privacy. Again I am going to say this is examples of small scale terrorism.

Read more: Terrorism, Between Idealism and Human Nature

Call for Article
ICAIOS welcomes scholars and researchers to publish scientific or popular articles. See the article guideline HERE

Want to get more involved with ICAIOS activities?
If yes, complete the form here

Also check our latest Public Discussion and Guest Lecture Series videos
Subscribe us on Youtube  

 

iconKM2

Links

logoGlobedlogo eossmeruccis logo newIDRPerakSmall logo1