Vitamin C untuk Penggemar MedSos

By : Rizanna Rosemary
PhD candidate in Health Communication di Department of Media and Communication,
Faculty of Arts and Social Science, University of Sydney, Australia

buIjan edit

Sejak kapan netizen butuh vitamin, khususnya vitamin C; dan apa kaitannya dengan media sosial? Barangkali demikian pertanyaan pembaca saat membaca judul tulisan ini. 

Sebelum bicara hubungan vitamin C dengan media sosial atau medsos, jawaban penulis tentang vitamin C cukup sederhana. Sebagaimana yang sakit butuh obat dan vitamin untuk proses penyembuhan, yang tidak sakit pun perlu vitamin untuk menjaga stamina dan kesehatan tubuhnya. Nah, vitamin C yang dimaksud dalam tulisan ini boleh jadi berbeda secara bentuk dengan vitamin yang dikonsumsi dua kelompok tersebut diatas. Tapi yang penulis maksud adalah sama secara sifat dan fungsi dengan definisi vitamin sebagai suplemen yang biasa dikonsumsi orang untuk membantu proses pertumbuhan dan perbaikan jaringan dalam tubuhnya. 

Sayangnya, analogi tersebut barangkali tidak sesederhana ketika berbicara tentang dunia media online atau medsos yang penuh warna dan dinamika. Khususnya bicara tentang perilaku penggunanya—netizen, yang semakin hari membuat kita terbelalak; antara terpana karena kagum akan cepat dan banyaknya informasi yang diperbincangkan dan dipertukarkan netizen, atau sebaliknya terganggu dengan berbagai jawaban dan komentar penggunanya yang terkadang provokatif dan mengandung kebencian.

Read more: Vitamin C untuk Penggemar MedSos

Habaib in Southeast Asia: A Review

By : Nia Deliana
A Lecturer in International Islamic University of Malaysia

nia

Ismail Fajri Alatas, “Habaib in South East Asia” in The Encyclopedia of Islam Volume III edited by Kate Fleet, Gudrun Kramer, Denis Matringe, John Nawas, and Everett Rowson, Leiden : Brill, 2018.

A subtitle “Habaib in Southeast Asia” authored by Ismail Fajri al Attas published in The Encyclopedia of Islam Volume III gives a brief description on the origin and role transformation of the Habaib in Southeast Asia as early as 15 th to the present time. It is crucial to note here that this referential works give no attention to the role of Aceh in the transformation of the Habaib in this region.

It begin with explaining the terminology of the words and its meaning. ‘Habib’ is a label awarded by the indigenous population as a gratitude to a prophet descendant traced their lineage to Ahmad bin Isa, the grand grandson of the prophet Muhammad SAW who emigrated from Basra to Hadhramawt in the 10 th century, in which later they pioneered numerous religious and political establishments. One of them is in Sufism field where Tariqat al Alawiyyah flourished and spread to Southeast Asia which persisted till the very present time. In these 4 pages narratives, Prof Alatas mentioned that the Habib was the earliest known Muslim missionaries in Southeast Asia, traced their existence to the 15 th century period. Yes, their origin in this area is pretty much debatable where one of the arguments indeed relates evidences of their existence as early as 9th century, appointing to inhibition of Lamuri, a long lost area once situated in the Northern part of Sumatra.

Read more: Habaib in Southeast Asia: A Review

Restoring Faith: Women Entrepreneurs in Post-tsunami Aceh

Salmawati, Abon Ikan Home Industry
Written by 
Maida Irawani

I had no idea about Seasoned fish meat floss (“abon ikan) until my husband shared the recipe to me after he participated on a Seasoned fish meat floss training organized by Banda Aceh Mayor Office in 1998. I was so curious about it as I never knew how it looks like and the taste. At first, I tried to cook it and the taste was strange, too sweet and not delicious. I was sure that Acehnese would not like it.

I did not give up and keep trying for many times, as I really wanted to earn additional income to support my family. My daughter initiated to sell my abon ikan in her school and many students bought it. However I received complaints from students’ parent, as they did not know what the product was, no product label and they did not familiar with abon. Later I had to organize P-IRT permit (food industry household permit) and we decided to put our son’s name on our product name “ Abon Tuna Saputra”.

The product was accepted in the market and our life change afterwards. I received many orders for my product and became well known after being promoted on TV and also my factory was visited by the previous Indonesian president, Megawati.  I was invited to be Abon trainer and my business kept growing and successful. I had 18 workers who worked with me to produce tuna abon industry and later our business was expanded. Tragically, tsunami 2004 killed three of my children and destroyed house and all business that we had established.

Read more: Restoring Faith: Women Entrepreneurs in Post-tsunami Aceh

Apa Salah si Kambing Hitam

By : Adri Syakir
Penulis adalah lulusan Universitas Syiah Kuala
Email :adri.syakir@gmail.com

fotoAdri

Kalau orang bule punya istilah “scapegoat”, orang Indonesia tidak mau kalah membuat istilah sendiri, “Kambing Hitam”.  Siapa yang tidak tahu kambing hitam? Sepertinya kebanyakan orang Indonesia mengetahui apa makna kambing hitam, makhluk populer teman “buaya darat”. Konotasi kambing hitam memang sarat dengan hal negatif, pesakitan, tumbal alias pihak yang disalahkan, tapi konotasinya akan berubah positif kalau si kambing diolah menjadi gulai kambing atau kambing guling.

Fenomena kambing hitam atau mengkambing hitamkan orang lain sudah menjamur di masyarakat sejak dulu, bahkan sejak Negara ini belum merdeka, atau mungkin lebih lama lagi, siapa yang tahu. Secara istilah, kambing hitam bermakna orang atau suatu faktor eksternal yang sebenarnya tidak bersalah, tetapi dituduh bersalah atau dijadikan tumpuan kesalahan. Namun masyarakat Indonesia tidak perlu berkecil hati, fenomena ini terjadi juga pada masyarakat di seluruh dunia baik di negara maju, berkembang, atau miskin. Tentu saja embel-embel Indonesia sudah merdeka namun pemikiran masyarakat masih terjajah, tidak akan mempan menjelaskan fenomena “perkambinghitaman” ini.

Read more: Apa Salah si Kambing Hitam

Memaknai Hari Lingkungan Sedunia dengan Cinta


Oleh : Sarmiyati

Penulis adalah Alumnus Prodi Pendidikan Biologi
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan 
UIN Ar-Raniry
Email : sarmiyati1815@gmail.com

Diantara tanggal penting yang diperingati setiap tanggal 5 Juni di seluruh dunia, termasuk Indonesia, adalah hari Lingkungan Sedunia. Meski gaungnya mungkin tidak seheboh peringatan tanggal penting lainnya, Hari Lingkungan Sedunia yang pertama kali dicetuskan pada tahun 1972 ini pada dasarnya memiliki tujuan mulia sebagai gerakan untuk meningkatkan kesadaran hidup manusia sejagat.

Ditinjau dari segi sejarahnya, kesadaran akan permasalahan lingkungan ini mengemuka pada tahun 1970-an saat pelaksanaan Konferensi Stockholm tahun 1972. Di antara isu penting yang dibahas dalam konferensi ini adalah terkait dengan permasalahan lingkungan (United Nation Confrence of Human Enviroment, UNCHE). Konferensi yang diselengarakan pada tanggal 5-12 Juni 1972 ini akhirnya menetapkan tanggal 5 Juni sebagai hari Lingkungan Hidup Sedunia. Berikutnya pada tahun 1987 terbentuklah suatu Komisi Dunia tentang Lingkungan Hidup dan Pembangunan (World Commision on Enviroment and Development), sehingga melahirkan sebuah konsep yang berkelanjutan. Hal ini kemudian diperkuat lagi dalam konferensi di Rio de Jenairo, Brasil, pada tahun 1992 yang diadakan oleh Majelis Umum PBB.

Read more: Memaknai Hari Lingkungan Sedunia dengan Cinta

 banner 001

 

Call for Article
ICAIOS welcomes scholars and researchers to publish scientific or popular articles. See the article guideline HERE

Want to get more involved with ICAIOS activities?
If yes, complete the form here

Also check our latest Public Discussion and Guest Lecture Series videos
Subscribe us on Youtube  

 

 

 

 

iconKM2

Our Partners

logoGlobedlogo eossmeruccis logo newIDRPerakSmall logo1