Public Discussion Series
Broker Perempuan dan Klientelisme
pada Lokal Elektoral
pada Lokal Elektoral
Speaker:
Rizkika Lhena Darwin
Dosen FISIP UIN Ar-Raniry
Jum'at, 28 April 2017 | 16.30 - 18.00 WIB | Ruang Seminar ICAIOS
About PDS:
Demokrasi elektoral di dunia ketiga dan Indonesia secara umum memperlihatkan praktek klientelisme yang menguat. Relasi klientelisme terutama perempuan sebagai broker pada tingkat wacana lebih didominasi tentang bagaimana perempuan sebagai objek maupun instrumen yang mengekploitasi perempuan dalam aktifitas politik. Tulisan ini akan mengungkapkan argumentasi berbeda dari posisi perempuan dalam aktifitas politik secara mainstream tersebut. Bahwa dalam relasi klientelisme terdapat kuasa broker perempuan sebagai agensi.
Hal ini termanifestasi melalui otonomi tindakan politik broker perempuan. Aceh memiliki budaya yang terbentuk oleh historis kolonialisme, nilai-nilai keagamaan, serta pengalaman konflik dan tsunami yang mengkonseptualisasikan kembali rasionalitas perempuan dalam politik. Atas dasar itu maka kehadiran broker perempuan memperlihatkan beberapa hal. Pertama, perempuan dan agensi dalam konteks Aceh. Kehadiran broker perempuan adalah bentuk rekonstruksi terhadap wacana dominasi gender laki laki terhadap gender perempuan. Kedua, perempuan memilik kuasa untuk membuat keputusan yang otonom menjadi broker perempuan. Ketiga, perempuan memiliki ruang keleluasaan ruang gerak dalam kerja pemenangan. Broker perempuan memiliki kemampuan untuk melihat isu-isu strategis terutama bagi pemilih dari kelompok rentan. Dengan demikian, kuasa broker perempuan terdeskripsikan melalui kemampuan sebagai agensi yang otonomin dalam meletakkan kuasa pada kerja pemenangan di pemilu lokal.
Demokrasi elektoral di dunia ketiga dan Indonesia secara umum memperlihatkan praktek klientelisme yang menguat. Relasi klientelisme terutama perempuan sebagai broker pada tingkat wacana lebih didominasi tentang bagaimana perempuan sebagai objek maupun instrumen yang mengekploitasi perempuan dalam aktifitas politik. Tulisan ini akan mengungkapkan argumentasi berbeda dari posisi perempuan dalam aktifitas politik secara mainstream tersebut. Bahwa dalam relasi klientelisme terdapat kuasa broker perempuan sebagai agensi.
Hal ini termanifestasi melalui otonomi tindakan politik broker perempuan. Aceh memiliki budaya yang terbentuk oleh historis kolonialisme, nilai-nilai keagamaan, serta pengalaman konflik dan tsunami yang mengkonseptualisasikan kembali rasionalitas perempuan dalam politik. Atas dasar itu maka kehadiran broker perempuan memperlihatkan beberapa hal. Pertama, perempuan dan agensi dalam konteks Aceh. Kehadiran broker perempuan adalah bentuk rekonstruksi terhadap wacana dominasi gender laki laki terhadap gender perempuan. Kedua, perempuan memilik kuasa untuk membuat keputusan yang otonom menjadi broker perempuan. Ketiga, perempuan memiliki ruang keleluasaan ruang gerak dalam kerja pemenangan. Broker perempuan memiliki kemampuan untuk melihat isu-isu strategis terutama bagi pemilih dari kelompok rentan. Dengan demikian, kuasa broker perempuan terdeskripsikan melalui kemampuan sebagai agensi yang otonomin dalam meletakkan kuasa pada kerja pemenangan di pemilu lokal.

