Ibarat Peribahasa, Mengerjakan Skripsi itu ….

 

Oleh : Ibnu Munzir
Penulis adalah Alumni Pennsylvania State University, US

 

Ibnu Mundir

Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Pembimbing saya berkisah ia sering menemui dua jenis mahasiswa/i yang memulai tugas akhir bersamaan. Sebut saja nama mereka: Tekun dan Cemerlang. Tekun tidaklah secerdas Cemerlang. Cemerlang juga tidak serajin Tekun. Cemerlang pun dengan penuh empati heran mengapa Tekun mengalami banyak kesulitan dan harus bersusah payah mengerjakan sesuatu yang dapat Cemerlang lakukan dengan mudah. Di sisi lain, Tekun terus mencicil tugasnya sembari menghadapi segala hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan bagi stabilitas tugas akhirnya. Cemerlang santai, toh ia percaya dengan kedigjayaannya. Hari bertukar pekan; pekan berubah bulan; dan bulan pun menghantarkan ujung semester, Tekun hampir menyelesaikan tugasnya sementara Cemerlang belum ke mana-mana. Sehari selembar benang, lama-lama sehelai kain; Sehari selembar draft, lama-lama sejilid skripsi.

Lancar kaji karena diulang, habis jalan karena ditempuh. Mengapa Tekun bisa lebih cepat selesai? Apakah yang menentukan keberhasilan akademis di perguruan tinggi? Sebuah penelitian membandingkan perbedaan tingkat komitmen pada tugas, kecerdasan, dan kreativitas antara mereka yang berprestasi (achiever) dan kurangberprestasi akademis (underachiever). Ternyata komitmen tugaslah yang paling membedakan mereka. Kenapa bukan kecerdasan dan kreativitas? Umumnya untuk dapat masuk ke perguruan tinggi yang kompetitif, kita harus mengikuti tes kemampuankognitif. Jadi bisa dikatakan bahwa mereka yang diterima, umumnya memiliki kecerdasan minimal yang dibutuhkan untuk survive di perguruan tinggi tersebut. Yang pada akhirnya menentukan prestasi seseorang adalah komitmen tugasnya, kemampuan untuk terus menerus maju pelan-pelan hingga akhirnya berada di depan. Kita sering kali membayangkan bahwa perubahan terjadi secara quantum: drastis dan signifikan dalam sekejap. Akan tetapi, sering kali perubahan besar terjadi sebagai akumulasi perkembangan bertahap, begitu juga dengan kemampuan akademis kita. Jadi jika kita tidak terlahir sebagai Cemerlang, jangan khawatir karena kita bisa memilih menjadi Sang Tekun dan sering kali Tekun lah yang selesai lebih dahulu. Ingat, belasan tahun lalu saat di sekolah dasar kita tidak belajar “Cerdas pangkal pintar”, tapi Rajin pangkal pandai!
Tiada gading yang tak retak. Peribahasa ini paling sering dikutip dalam kata pengantar tugas akhir. Kita memang perlu belajar dari gajah yang menerima kenyataan bahwa satu-satunya peninggalannya tidak lah sempurna: gading retak. Kesediaan untuk menyadari dan menerima keterbatasan karya diri dan bersikap realistis penting dalam penyelesaian tugas akhir. Konon ada dua jenis tugas akhir: the great ones dan those that are completed! Banyak tugas akhir menjadi sulit dan berlarut-larut karena penyusun berharap untuk dapat menyelesaikan masalah dunia dengan satu karya. Kita kadang berharap skripsi kita akan menjadi magnum opus, karya agung kita. Saya beruntung memiliki pembimbing yang terus mengingatkan bahwa yang paling penting sekarang adalah menyelesaikan pendidikan. Setelah itu, saya akan memiliki kebebasan untuk berkarya sesuai dengan potensi maksimal. Bukankah Mathematical principles of natural philosophy, Das capital, atau The interpretation of dreams ditulis oleh Newton, Marx, atau Freud jauh setelah mereka menyelesaikan pendidikan formal mereka? Jadi, tugas akhir yang selesai adalah jauh lebih baik daripada karya besar yang berhenti di tengah jalan. Gajah mati meninggalkan gading; harimau mati meninggalkan belang; kalau mahasiswa mati meninggalkan apa? Hutang emas dapat dibayar; hutang skripsi  dibawa mati!

Berburu ke padang datar dapat rusa belang kaki, mengerjakan skripsi kepalang ajar bagai bunga kembang tak jadi. Salah satu hikmah terpenting dalam mengerjakan tugas akhir adalah belajar menyelesaikan sesuatu yang telah kita mulai. Proyek besar ini akan dapat kita kelola dengan baik jika kita dapat memecahnya dalam banyak bagian kecil yang dapat dikelola (manageable). Kita juga tidak harus selalu lancar dalam setiap tahap. Bukankah memenangi peperangan panjang mensyaratkan kita untuk mampu menerima dan bangkit dari kekalahan dalam beberapa pertempuran kecil? Selain itu, salah satu hal terpenting dalam memenangkan perang panjang ini adalah mempertahankan momentum, dengan terus mengerjakannya. Kadang setelah berhenti untuk beberapa lama, kembali memulai bab niat bukanlah hal yang gampang. Karenanya, kita disarankan untuk tetap membuat kemajuan, sekecil apa pun itu, setiap minggu. Ingat, pahit jangan lekas dimuntahkan, manis jangan lekas ditelan.

Dalamnya laut dapat diduga, sulitnya skripsi siapa yang tahu. Memang banyak kendala sepanjang jalan; masing-masing kita memiliki tantangannya sendiri; masing-masing pun tak berhak “menilai” yang lain. Dalam berburu waktu pembimbing, kadang kita bagaikan pungguk merindukan bulan. Setelah sekian lama tak kunjung bersua, kita pun menjadi anak ayam kehilangan induk. Begitu bertemu, kita heran mengapa pembimbing yang profesor doktor itu tidak memahami alur berpikir kita (yang menurut kita) logis, runtut, koheren, kohesif, dan sesuai dengan ejaan yang disempurnakan (EYD). Coretannya yang menari di sekujur draft kita kadang menghempas semangat kita meluncur ke titik nadir, hidup segan, mati tak mau. Selesai dengan satu pembimbing, pembimbing lain memberikan saran yang bertentangan dan akhirnya dua gajah bertarung, pelanduk mati di tengah-tengah. Ketika kendala menumpuk, kita menjadi besar pasak daripada tiang, meluangkan lebih banyak waktu untuk mengkhawatirkan daripada mengerjakan tugas. Ahhh, dengan segerbong kendala yang takkan habis untuk dirinci itu, semoga kita tidak menyerah untuk terus berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian!

Tak kenal maka tak sayang. Selain ikhtiar, kita juga perlu berendah hati untuk meminta kepada Dia yang menguasai segalanya. Ketika sedang pusing dengan tugas akhir, saya membaca Al-Quran, Surat Al-Baqarah dan terngungun tertegun pada ayat 45: “Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat,” ayat 107: “Tidakkah kamu tahu bahwa Allah memiliki kerajaan langit dan bumi? Dan tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah,” dan ayat 117: “(Allah) pencipta langit dan bumi. Apabila dia hendak menetapkan sesuatu. Dia hanya berkata padanya, “Jadilah!” maka jadilah sesuatu itu.” Kita kadang “lupa” bahwa alam semesta ini milik-Nya dan Allah sangat senang saat kita meminta pada-Nya. Jika Dia berkehendak, apa pun terjadi. titik. Ah, sudahkah kita meminta pada-Nya dengan baik? Manusia berencana, Tuhan menentukan ***

Call for Article
ICAIOS welcomes scholars and researchers to publish scientific or popular articles. See the article guideline HERE

Want to get more involved with ICAIOS activities?
If yes, complete the form here

Also check our latest Public Discussion and Guest Lecture Series videos
Subscribe us on Youtube  

iconKM2

Links

logoGlobedlogo eossmeruccis logo newIDRPerakSmall logo1