
Serial Diskusi
Identitas Melayu dalam Sejarah Aceh dan Pulau Pinang
Dalam sejarah, hubungan Aceh dan Pinang tidak dapat dinafikan, terutama ketika Franciss Light dan Syed Hussein al-Aidid mendirikan Pinang pada tahun 1786. Tak lama setelah itu, Pinang merupakan pintu gerbang warga Aceh untuk menunaikan ibadah haji. Dalam dunia perdagangan, dulunya semua aktivitas ekonomi Aceh saat itu dibangun melalui hubungan Aceh dan Pinang.
Aceh juga memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi di Pinang melalui ekspor kekayaan alamnya, terutama lada. Bagi orang Aceh, khususnya ketika perang, Pinang merupakan tempat untuk melobi dunia international. Dalam hal ini, orang Aceh di pulau Pinang, melakukan berbagai upaya untuk menggagalkan Aceh untuk diduduki oleh Belanda. Uniknya, hubungan harmonis Aceh dan Pinang yang terjalin sejak abad ke-16 itu masih kokoh terbina, sekokoh Masjid Melayu Lebuh Acheh, mesjid tertua di Pinang yang masih ramai dikunjungi orang. Saat ini, orang Aceh dan Pinang dapat saling berkunjung via Firefly, yang terbang rutin tiga kali setiap minggu. Pemerintah Aceh pada masa pemerintahan Irwandi/Nazar juga telah membuka Kantor Perwakilan Investasi dan Promosi Aceh di Pinang. Yang tak kalah menarik, karya-karya P. Ramlee, putra Aceh kelahiran Pulau Pinang yang telah menjadi ikon dunia melayu, masih tetap dinikmati oleh generasi sekarang baik yang berada di Aceh ataupun Malaysia.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Apa yang membuat Aceh dan Pinang begitu mesra? Apakah ini karena pertautan identitas yang sama: sebagai orang Melayu? Seberapa Melayukah orang Aceh? Seberapa besar pengaruh dan kontribusi Aceh dalam dunia melayu dan Pinang khususnya? Atau sebaliknya, sejauh mana "Melayu" punya peran dalam konstruksi identitas di Aceh dan Pinang?
Untuk menemukan jawaban atau menggali kembali lebih dalam pertanyaan-pertanyaan di atas, ICAIOS berkolaborasi dengan Bandar Publishing dengan ini mengundang Bapak/Ibu sekalian untuk mengikuti diskusi dengan topik:
IDENTITAS MELAYU DALAM SEJARAH ACEH DAN PULAU PINANG
Selasa, 8 Mei 2012; Jam 16:15 s.d. 18:15
Di Ruang Seminar ICAIOS, Komplek Gedung PPISB, Kampus Unsyiah, Darussalam
Pembicara: Dr. Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad
Dr. Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad menempuh Pendidikan S1 di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan S2nya di University of Malaya. Sedangkan gelar Ph.D diraihnya dari La Trobe University, Australia dengan major Antropologi Sosial. Terkenal cukup produktif menulis, diantara buku-buku beliau yaitu Acehnologi (Bandar Publishing, 2011), Islamic Law in Southeast Asia: A Study of Its Application in Kelantan and Aceh (Silkworm, 2009), Wajah Baru Islam di Indonesia (UII Press, 2004) Relasi Islam dan Negara: Perspektif Modernis dan Fundamentalis (Indonesia Tera, 2001). Tulisannya "From Teungku to Ustaz: A Potrait of Islamic Education in Aceh, Indonesia" dipresentasikan dalam International Conference on Aceh and Indian Ocean Studies pada tahun 2011 yang lalu. Disamping berprofesi sebagai tenaga pengajar di Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry, saat ini beliau juga research fellow di University of Malaya.
Diskusi ini terbuka untuk umum dan peserta tidak dikenakan biaya. Karena tempat terbatas, registrasi dianjurkan lewat info@acehresearch.org atau telp. (+62) 651-755-2368














