Harmonisasi Kewenangan Pengelolaan Hutan di Aceh
Bakti Siahaan, S.H., M.Hum
Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala
Koordinator Tim Penyusunan Rencana Strategis Pengelolaan Hutan Aceh
Anggota Tim Pembahasan Qanun Tata Ruang Aceh
Anggota Tim Penyusun Rancangan Peraturan Gubernur Tentang Pelaksanaan Pemantauan dan Pengawasan LIngkungan Hidup di Aceh
Realitas sejarah menunjukkan kegagalan pengelolaan kehutanan di Indonesia dan Aceh. Aceh memiliki peluang untuk memperbaiki pengelolaan kehutanan dengan adanya Otonomi Khusu bagi Aceh. Akan tetapi, Otonomi khusus bagi Aceh belum dapat sepenuhnya mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat, termasuk di bidang kehutanan. Masyarakan di dalam hutan dan seputaran masih banyak yang miskin. Berbagai kebijakan yang ada (diantaranya, UU Pemerintah Aceh, UU Pemerintah Daerah, dan UU Kehutanan beserta peraturan pelaksanaannya) cenderung bersifat sektoral dan terkadang tumpang tindih. Akibatnya, penyelenggara pemerintah di tiap level pemerintahan melakukan tafsirnya sendiri terhadap aturan yang ada (Bakti Siahaan dkk, 2009).
Being Young and Muslim in Diaspora : Narratives of Indonesian-Australian Muslims

Dr. Teuku Zulfikar, M.Ed
Executive Director of ICAIOS
Head of English Language Education Department of UIN Ar-Raniry
M.Ed in Educational Administration (Ohio University, 2006)
Ph.D in Pedagogy and Cultural Studies (Monash University, 2011)
The history of Muslim settlement in Australia has been dated on 13th century, and since then Some Muslims have assimilated and integrated to the mainstream society, Likewise, Indonesian Muslim communities in Australia have integrated, and some of them in fact assimilated to the mainstream society. This is so, since identity is hybrid and also fluid; it changes folowing the changes of time and space. Family, Muslim community centers, Islamic and Australian public schools are spaces where identity is molded and shaped. Most Muslims, especially young Muslims position themselves within multiple settings;they sometimes find it difficult to negotiate between being young and being Muslim.
Read more: Being Young and Muslim in Diaspora : Narratives of Indonesian-Australian Muslims
Future Teachers as Peace builders in Banda Aceh, Indonesia

in Banda Aceh, Indonesia
Faryaal Zaman
MSc Candidate at University of Amsterdam in International Developement Studies
The current state of peace in Aceh is celebrated as a case of successful implementation of humanitarian, developement and security aid in a post-conflict environment (Lopes Cardozo and Shah, 2014), even though it is clear that the full implications of the civil war have still not been addressed. Aceh is further worthy of study because of its "perceived break" ((Lopes Cardozo and Shah, forthcoming), 2) from cultural and political conflicts in the past, in an effort to remake itself after a violent and tragic history. Therefore, this research hopes to make a small constribution towards understanding the contextual nuances and logistics which shape notions of peacebuilding in Islamic, post-conflict settings.
Read more: Future Teachers as Peace builders in Banda Aceh, Indonesia
KIAT MENGHAFAL AL-QUR'AN
Ria Hayatun Nur, S.Stat
Staf Penajar MA Ruhul Islam Anak Bangsa
Volunteer at ICAIOS
Kalam Ilahi adalah sura cintanya Allah kepada manusia agar tidak tersesat selama hidup di dunia. Begitu besarnya cinta Allah pada kita namun terkadang manusia lalai terhadapnya.
Dan Rasul (Muhammad) berkata, "Ya Tuhan-ku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur'an ini diabaikan." (Q.S. Al-Furqan : 30)
Membaca, memahami, mengamalkan, dan menghafal Al-Qur'an adalah bukti cinta dan komitmen kita untuk hidup bersama Al-Qur'an.


















