Development of Youths
Prof. Dr. Barbara Jurgens
Visiting Professor at Faculty of Psychology, UIN Ar-Raniry
Professor in Educational Psychology at University of Education
Ludwigsburg and Technical University Braunschweig (Germany)
In this talk, current issues on the research on the development of youths are presented. Describing developmentals tasks shows the special situation of youth. Cognitive and motivational processes are changing considerably from childhood through youth to adulthood. Ways of coping with stress are influencing well-being and health of young people. Moreover they have an impact on their adult life. Many young people are living i poor conditions. Therefore reseliency, that is thriving in the face of adversityhas become an important issue in the last decades.
Membangun Kesadaran Kritis di Sekolah Kita : Mengapa dan Bagaimana?
Mengapa dan Bagaimana?
Fatma Susanti
Pengajar Kewarganegaraan di SMA Lab School Unsyiah
Menurut Freire, tujuan utama dari pendidikan adalah “memanusiakan manusia kembali” dan membuka mata peserta didik guna menyadari realitasnya untuk kemudian bertindak melakukan transformasi sosial. Proses pembelajaran pun harusnya didasarkan pada prinsip-prinsip yang bertujuan untuk mengenali dan menjawab permasalahan sosial yang ada. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa proses belajar mengajar tidak lebih dari sekedar melanggengkan status quo dan sistem yang ada sekalipun bersifat eksploitatif. Hal ini membuat pembelajar teralienasi dengan realitasnya sendiri, sehingga sangat sulit diharapkan untuk mampu melakukan refleksi kritis dan transformasi terhadap sistem yang ada, meski telah memperoleh pendidikan hingga jenjang yang paling tinggi sekalipun.
Read more: Membangun Kesadaran Kritis di Sekolah Kita : Mengapa dan Bagaimana?
Bahasa dan Identitas : Diaspora Etnik Aceh di Yan Kedah, Malaysia
Bustami Abubakar
Dosen UIN Ar-Raniry
S3 Bidang Antopologi dan Sosiologi
Artikel ini mengetengahkan isu upaya komunitas diaspora Aceh di Kampung Acheh, Yan, Kedah dalam rangka mengekalkan identitas sosial mereka sebagai etnik Aceh melalui pemakaian Bahasa Aceh. Komunitas diaspora ini bermula dari migrasi penduduk Aceh ke Yan Kedah pada akhir abad ke 19. Walaupun para penghijrah dan keturunan meraka telah bermukim di Yan selama lebih dari satu abad dan bahkan mereka telah mei Warga Negara Malaysia, namun mereka masih tetap menyatakan identitas diri mereka sebagai orang Aceh. Kedua, upaya menunjukkan identitas sebagai orang Aceh dilakukan oleh etnik Aceh terutama melalui pemakaian Bahasa Aceh dalam percakapan harian mereka. Bahasa Aceh juga telah digunakan sebagai bahasa utama dalam ragam aktivitas resmi antara mereka, seperti musyawarah, majelis penyambutan dan jamuan tetamu, dan ragam aktivitas lain.
The Relationship of Aceh and Ottoman
Baiquni, MA
Lecturer at STAIN Malikussaleh
The relationship of Aceh Darussalam Sultanate and Ottoman Empire is believed firstly occured in the middle of 16th century. It has happened as respond to European countries particularly Portuguese's domination in Malay straits and Sumatra Island and also caused the escalation of Aceh Darussalam Sultanate's supremacy, especially after Sultan Selim II sent Ottoman military experts to Aceh. Moreover, the relationship was also unique because it should not merely be seen as suzerain-vassal relationship, but it was more to a cooperation of two Islamic states (center-periphery) in order to defeat the same enemy. Hence it became one of the failure causes of Portuguese's domination both in South East Asia and also in Indian Ocean.
More Articles ...
- Pelatihan Statistika untuk Ilmu-ilmu Sosial dan Budaya
- Mari Bangun Mimpi Anak Indonesia. Bergabunglah Bersama Kelas Inspirasi
- Perpustakaan ICAIOS Kembali Terima Sumbangan Buku
- Tasawuf di Negeri Syariat: Tarekat Naqsybandiyah dan Konsistasi Otoritas Spiritual di Aceh
- Harmonisasi Kewenangan Pengelolaan Hutan di Aceh





















