PDS: Art and Music of Aceh: From Local to Global

His official profile could be senn at http://fsd.unsyiah.ac.id/ari while his email address is ari.palawi@gmail.com

His official profile could be senn at http://fsd.unsyiah.ac.id/ari while his email address is ari.palawi@gmail.com
Serambi Indonesia | Selasa, 16 Februari 2016
BANDA ACEH - Tiga kelompok etnik bersenjata api (senpi) dari Myanmar beraudiensi dengan Wali Nanggroe, Tgk Malik Mahmud Alhaythar di Gedung Majelis Adat Aceh (MAA) di Kompleks Keistimewaan Aceh, Senin (15/2). Dalam pertemuan singkat itu, para delegasi berjumlah 17 orang itu bertanya seputar perdamaian Aceh yang telah terwujud sejak 15 Agustus 2005.
Ketiga kelompok bersenjata yang hadir kemarin merupakan kelompok bersenjata yang telah menandatangani perjanjian genjatan senjata nasional (National Ceasefire Agreement) dengan Pemerintah Myanmar. Ketiga kelompok itu adalah, Karen National Union/Karen National Liberation Army (KNU/KNLA), Democratic Karen Benevolent Army (DKBA), dan Karen National Union/Karen National Liberation Army Peace Council (KNU/KNLA PC).
Kunjungan kemarin, para delegasi didampingi staf dari Center for Peace and Conflict Studies dan bekerjasama dengan lembaga riset International Center for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS). Program Assistant ICAIOS, Fahmi Yunus mengatakan, misi kunjungan kelompok Karen tersebut guna mempelajari tentang proses perdamaian yang telah terwujud di Aceh.
Read more: Kelompok Besenjata Myanmar Pelajari Perdamaian Aceh
ACEHTREND.CO, Banda Aceh | 15 Februari 2016
Hari ini, Senin (15/2/2016), siang kelompok bersenjata Karen mengunjungi kantor Wali Nanggroe dan diterima langsung oleh Wali Nanggroe, Malik Mahmud Al Haytar.
Pada kesempatan ini wali nanggroe memaparkan perjuangan Aceh, konflik Aceh serta proses perdamaian Aceh yang telah diinisiasi sejak tahun 1999 yang difasilitasi oleh Henry Dunant Centre, dan sempat mengalami proses maju dan mundur hingga sekarang, yang ditandai dengan perjanjian damai di Helsinki, Finlandia.
Dalam proses menuju damai Aceh, menurut Wali ada banyak tantangan dan hambatan yang dihadapi, hampir sama dengan konflik Myanmar yang saat ini sudah mulai memasuki fase damai, namun masih ditemui beberapa tantangan.
Wali Nanggroe menganjurkan kepada para pihak yang berkonflik, kelompok bersenjata di Myamar untuk mengikuti cara-cara melalui meja perundingan atau dialog.
Read more: Ini Anjuran Wali Kepada Kelompok Etnik Bersenjata Karen
Harian Analisa| Selasa, 16 Februari 2016
Banda Aceh, (Analisa). Tiga kelompok etnik bersenjata (Ethnic Armed Organizations/EAOs) Myanmar berkunjung ke Aceh pada14-20 Februari 2016 guna bertemu dengan beberapa tokoh dan organisasi di Aceh.
Kelompokyang berasal dari etnik Karen ini adalah kelompok bersenjata yang sudah menandatangani perjanjian gencatan senjata nasional (National Ceasefire Agreement/NCA) Myanmar, yang terdiri atas Karen National Union/Karen National Liberation Army (KNU/KNLA), Democratic Karen Benevolent Army (DKBA) dan Karen National Union/Karen National Liberation Army Peace Council (KNU/KNLA PC).
Misi kunjungan kelompok Karen untuk belajar, memahami proses perdamaian, pencapaian selama ini dan tantangan yang dihadapi bagi perdamaian yang berkelanjutan. Di samping itu, kelompok ini juga belajar pengalaman Aceh tentang tahapan- tahapan dalam transisi dan transformasi dari pejuang kemerdekaan yang kemudian menjabat posisi penting di pemerintahan.
Pada Senin (15/2), kelompok bersenjata Karen mengunjungi kantor Wali Nanggroe Aceh dan diterima Wali Nanggroe, Malik Mahmud. Pada kesempatan ini Malik memaparkan perjuangan Aceh, konflik Aceh serta proses perdamaian yang telah diinisiasi sejak 1999 dengan difasilitasi Henry Dunant Centre (HDC) dan sempat mengalami proses maju mundur hingga ditandatangani perjanjian damai dengan Pemerintah Indonesia di Helsinki, Finlandia.
Read more: Kelompok Bersenjata Myanmar Pelajari Perdamaian Aceh